-->
Tampilkan postingan dengan label PRRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRRI. Tampilkan semua postingan

Apa saja Pemberontakan Di Indonesia Setelah Kemerdekaan

Berbicara soal sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin sangatlah panjang ceritanya. bagaimana tidak, Indonesia di jajaha oleh belanda saja kurang lebihnya selama 350 tahun, belum lagi di tambah dengan 3,5 tahun di jajah oleh jepang. Namun setelah Indonesia merdeka Negara kita belumlah terasa aman karena masih banyak pemberontakan yang tersebr di berbagai wilayah di Indonesia. Neriku kami kan memberikan informasi tentang beberapa rangkuman peristiwa pemberontakan di Indonesia setelah merdeka.


Peristiwa Madiun, 18 september 1948

Peristiwa ini di pimpinan oleh Moeso yang baru kembali dari Moskow. Aliran kiri itu merebut Madiun dan memproklamasikan ‘’Sovyet Republik Indonesia’’ namun mereka dapat di tumpas oleh para TNI Indonesia yang berjuang merebut kembali Madiun ketangan Negara Indonesia.

Pemberontakan Kartosuwiryo, 19 desember 1948
Peristiwa ini terjadi di jawa barat, yang di lakukan oleh pasukan darul islam di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Namun mereka dapat dihancurkan oleh pasukan Divisi Siliwangi pada saat itu.

Peristiwa APRA di Bandung, 23 januari 1950
APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di bawah pimpinan Westerling memberontak kepada RIS (Republik Indonesia Serikat). APRA dapat dihancurkan pada tanggal 24 januari 1950.

Peristiwa Andi Aziz Ujungpadang, 5 april 1950
Andi Aziz adalah mantan seorang KNIL yang memberontak kepada RIS pada saat itu. Namun pada tanggal 26 april 1950 Andi Aziz menyerah karna kekalahannya.

Peristiwa RMS di Maluku, 1 november 1950
RMS yang singkatan dari (Republik Maluku Selatan) di bawah pimpinan Soumokil memberontak kepada RIS. Namun pemberontakannya tersebut berakhir setelah dapat di tumpaskan oleh TNI yang di pimpin oleh Slamet Riyadi, namun sayangnya Slamet Riadi gugur dalam peristiwa tersebut.

Pemberontakan Ibnu Hajar di daerah Kalimantan Selatan
Ibnu Hajar yang menjdi sebagai pimpinan pemberontakan di Kalimantan Selatan tersebut akhirnya dapat ditangkap pada bulan desember 1949.

Pemberontakan DI/TII di daerah Jawa Tengah, (1949-1962)
Pemberontakan berisi tentang DI/TII (darul islam) / (tentara islam Indonesia) yang di bawah pimpinan kartosuwiryo akan membentuk Negara islam di Indonesia

Pemberontakan DI/TII di Sulawesi selatan, 1957
DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakar memberontak kepada Republik Indonesia. Namun akahirnya Kahar menyerah pada tanggal 17 agustus 1957

Pemberontakan DI/TII de Brebes, Jawa Tengah
Pemberontakan ini di pimpin oleh Amin Fatah

Pemberontakan DI/TII di Aceh
Pemberontakan ini di pimpin oleh Daud Beureuh

Pemberontakan AMI di Kebumen, Jawa Tengah
AMI (angkatan muda islam) di kebumen Jawa Tengah mengadakan pemberontakan, yang di pimpin oleh Kiai Somalangu.

Pemberontakan Batalyon 264
Peristiwaq itu terjadi di kudus, jawa tengah. Dan pemberontakan itu dapat di gagalkan oleh pasukan TNI Indonesia.

Peristiwa MMC di Jawa Tengah
Di lereng merapi dan merbabu, jawa tengah, gerombolan yang menamakan Merapi Merbabu Complek (MMC) memberontak kepada Republik Indonesia.

Pemberontakan PRRI di Sulawesi,(1958-1961)
PRRI yang berasal dari singkatan (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) melakukan pemberontakan di Sulawesi.

Pemberontakan Permesta di Sulawesi,(1958-1961)
Permesta yang berasal dari singkaran (perjuangan rakyat semesta) melakukan pemberontakan di daerah Sulawesi.

Pemberontakn G30S/PKI, 30 september 1965
Terjadi peristiwa penghianatan G 30S/PKI yang di lakukan oleh kelompok dewan Revolusi Indonesia pimpinan Letkl Untung, komandan Batalyon I kawal kehormatan Resimen Cakrabirawa. PKI dan beserta ormas-ormasnya di bekukkan. Yang di sebut ormas PKI adala pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Garwani), Barisa Tani Indonesia (BTI), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), perhimpunan mahasiswa Indonesia (Perhim), ikatan pemuda pelajar indonesia (IPPI), serta Himpunan Sejarah Indonesia (HIS). [SUMBER]

PRRI PEMBERONTAK TERHORMAT

PEMERINTAH pusat menetapkan PRRI sebagai pemberontak. Apa alasannya?

Sudah pasti demikian, dan saya pun sebagai pemerintah pusat akan mengatakan hal yang sama karena pendekatannya pendekatan formal. Ini sebuah negara sah Republik, tahu-tahu ada yang melawan di daerah. Wah. Ini pemberontakan. Ini tidak benar. Ya, karena itu dipandang dengan pendekatan formal. Ini negara legalistik berdasarkan UUD 1945. Itu alasan pertama.

Yang kedua, rezim itu sedang bulan madu otoriter. Apapun yang berbeda, mengusik, dan berbahaya harus dicarikan cap paten untuk memukulnya menjadi formal. Perbedaaan itu haram. Dan jelas dilarang. Artinya, Soekarno mulai ayun bambunya ke kiri, dan mulai berteman dengan PKI. Ini sudah sekian kali diperingatkan Hatta yang akhirnya mereka berseberangan. Hatta mengundurkan diri Desember 1956 karena tidak sejalan lagi dengan Soekarno. Meski begitu, secara personal mereka tetap dekat. Soekarno mengakatakan: “Tidak adalagi orang yang mau meluangkan waktunya untuk berbincang dengannya selain Hatta. Hanya Hatta yang melakukan dengan kenegarawanannya. Dua pendekatan yang bisa dipergunakan untuk menjawab itu.

Anda setuju dengan sebutan pemberontak itu?

Itu kan soal istilah. Kalau saya sendiri, PRRI itu tetap pemberontak. Pemberontak yang pemberani. Kalau berpikir formal, dia memang melakukan perlawanan kok. Tapi ingat, ini yang penting, tujuannya tidak untuk saparatisme. Dia tidak memberontak dalam pengertian ingin menjadikan negeri sendiri, seperti yang dicap jakarta. Tidak. Dia hanya ingin mengoreksi, mengoreksi apa yang menyimpang dari konstitusi. Banyak poinnya itu. Kalau kita paralelkan, tokoh lintas agama itu mirip sewaktu PRRI dengan menguraikan kesalahankesalahan pemerintah.

Dalam banyak hal, justru perjuangan PRRI menemukan bentuknya kembali di zaman sekarang. Muncul narasi-narasi kecil di daerah?

Ini karena mental kolonial masih melekat hingga kini dan tidak berubah-rubah. Kenapa begitu? Salah satunya, dan ini yang sedang saya tulis sekarang, pemegang negara ini narsisitik, selalu memuji diri. Coba Anda tanya ke pejabat dinas dan pejabat pemerintahan, pasti akan dikatakan, “Saya sudah berbuat begini, begitu, tapi ngerti g orang dengan apa yang diperbuat? Nol besar.” Ternyata polanya sama secara teoritis. Apabila negara atau pemimpin sudah mengabaikan rakyat, akan muncul narasi-narasi kecil. Muncul gerakan-gerakan yang mencoba menyelesaikannya masalahnya sendiri. Tidak bisa dihambat. Ini hukum sejarah. Apa yang terjadi dengan uni soviet, kan juga seperti itu. Ketika negara sudah diambil oleh tampuk kekuasaan otoriter dan mengabaikan tangung jawab atau melalaikan kepeduliannya terhadap rakyat. Dia sudah menyediakan bibitbibit protes atau ketidakadilan terhadap rakyat. Di saat itu, akan timbul semacam ketidakpuasaan dan berharap ada soluisi. Solusi tidak muncul, muncul narasi kecil. Narasi kecil ini saling bertalian nanti. Muncul di Padang, Jakarta, Medan, dan semuanya. Negeri ini menjadi terbakar. Kalau tidak ada jawaban yang tuntas, ini yang namanya gerakan rakyat.

Kepercayaan saya sekarang adalah terhadap masyarakat madani, yaitu masyarakat sipil. Mereka berkesempatan untuk mengubahnya. Ada contoh, ketika kasus Prita, gerakan rakyat tumbuh dengan mengumpulkan Koin.

Ada kesulitan membedakan PDRI dan PRRI?

Satu, perbedaannya, PDRI berhadapan dengan Belanda. Sementara PRRI berlawanan dengan Jakarta, rezim yang dinilai sama kolonialnya dengan rezim dulu. Kedua, PDRI memang sebuah gerakan nasional yang meluas di manamana, tidak hanya di Sumatera, tapi di Jawa, menjadi bagian dari PDRI. Ketika PRRI, gerakan yang dipelopori Sumbar, memang hanya bagian dari Sumatera didukung Permesta.

Tapi persamaannya banyak sekali, mulai dari medannya, rute yang ditempuh, juga pemimpinnya. Yang penting, spiritnya sama dalam arti melawan rezim kolonial. Kolonial itu memiliki pengertian sendiri. Pengertiannya, satu, mempertahankan ketergantungan (dependen). Orang dibikin tergantung terus. Antara yang dijajah dan terjajah. Dipimpin dengan yang dipimpin. Kedua, eksploitif.

Menguras. Walau sudah lama merdeka, kolonial itu masih utuh. Faktanya, UU kita sangat pro-elit, menindas yang di bawah.

Ketakutannya adalah pemberontakan terjadi di banyak daerah. Rakyat tidak percaya lagi kepada pemimpin. Apa yang terjadi?

Pemimpin tidak belajar pada masa lalu. Tidak ada proses pembelajaran dalam pemimpin kita. Pemimpin dalam pengertian rezim yang berkuasa itu, sudah kehilangan sejarah. Ibarat sumur tanpa dasar. Demi masa depan, tapi sebetulnya sudah kehilangan roh. Roh kita sebenarnya sederhana, kenapa kita merdeka untuk apa kita merdeka? Itu kan pertanyaan sederhana, tapi mana ada orang yang peduli sejarah? Menurut saya ini keliru besar.

Apa yang bisa kita pelajari dari PRRI ini?

Saya kira menyuarakan dan untuk mengingatkan. Paling tidak kita generasi sekarang, di saat tidak banyak harapan tumbuh dari penyelenggara negara, khususnya penegakan hukum, masyarakat madani atau potensi-potensi sosial harus bersuara mencari penyelesaian. Kemandirian masyarakat akan semakin kuat.􀂄
(Pewawancara Andika Destika Khagen)

Susunan Kabinet PRRI
1. Perdana Menteri/ merangkap Menteri Keuangan: Mr. Sjafruddin Prawiranegara
2. Wakil Perda Menteri: Moh. Natsir
3. Menteri Dalam Negeri: Kolonel M. Dahlan Djambek (Kemudian digantikan oleh Mr. Assaat Dt. Mudo)
4. Menteri Luar Negeri : Kolonel Maluddin Simbolon
5. Menteri Pertahanan/merangkap Menteri Kehakiman: Mr. Burhanuddin Harahap
6. Menteri Perdagangan/merangkap Menteri Perhubungan: Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo
7. Menteri PP dan K: Engku Moh. Sjafe’i
8. Menteri Kesehatan/merangkap Menteri Pembangunan: Kolonel J.F. Warrow
9. Menteri Agama: Mochtar Lintang
10. Menteri Pertanian: Saladin Sarumpaet
11. Menteri Sosial: Ayah Gani Usman
12. Menteri Perhubungan Pos, Telegraf dan Telepon: Kolonel M. Dahlan Djambek
13. Menteri Penerangan: Mayor Saleh Lahade
14. Kepala Staf Angkatan Perang PRRI: Kolonel A.E. Kawilarang (Atase Militer di Washington yang meniggalkan posnya bergabung dengan PRRI)
15. Kepala Staf Angkatang Darat: Letkol Ventje Sumual

Diambil dari e-Paper Harian Haluan, 13 February 2011 (SUMBER)

PERISTIWA SITUJUAH

Peristiwa Situjuah Batua 15 Januari 1949 adalah mata rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumbar, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah Indonesia. Dalam peristiwa ini puluhan pejuang dan rakyat badarai tewas di tangan Belanda, sehingga menjadi tragedi buruk sepanjang PDRI berdiri. Untuk mengenang para pejuang dan tokoh penting Peristiwa Situjuah, wartawan Padang Ekspres Fajar Rillah Vesky yang sedang menggarap buku tentang Peristiwa Situjuah, menuliskan sekilas sosok mereka buat anda. Selamat membaca!

Air cucuran atap jatuhnya ke genangan juga. Pepatah itu cocok betul untuk mengambarkan sosok Arisun Sutan Alamsyah, mantan Bupati militer Kabupaten Limapuluh Kota, yang dipanggil sang pencipta ketika tragedi berdarah 15 Januari 1949 meletus di Lurah Kincia, Situjuah Batua (sekarang masuk dalam Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar). Mengapa tidak? Jauh sebelum menjadi Bupati dan pemimpin rakyat, Arisun telah tumbuh di lingkungan orang-orang besar pun terpandang. Ayahnya adalah Tamin Datuk Bandaro Sati, mantan Kepala Negeri Banuhampu Agam. Pamannya Mr Assa’at, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sekaligus mantan Pj Presiden Republik Indonesia . Menurut (Alm) HC Israr, seorang penulis sejarah di Sumbar, Arisun Sutan Alamsyah lahir tahun 1915 di Nagari Kubang Putiah, Kabupaten Agam dari ibu bernama Harikam. Dalam keluarganya yang bersuku Piliang, Arisun merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Layaknya banyak pemimpin di negeri ini, Arisun Sutan Alamsyah juga sempat mengecap berbagai jenjang pendidikan. Dia pernah bersekolah di-Hollands Inlands School (HIS), dan Mee Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Bukittingi. Setamat dari Mulo, dia melanjutkan pendidikan ke Algeene Middelbare Scholl (AMS) di Jakarta. Setamat dari AMS, Arisun mendapat tawaran bekerja dari Belanda. Tapi dia bukanlah orang yang haus akan jabatan, karena jauh di balik sanubarinya, terpatri rasa tidak ingin menjadi robot-robot penjajah Belanda! Makanya, Arisun Sutan Alamsyah langsung bertekad untuk terus dan terus menggali ilmu pengetahuan, dengan berencana melanjutkan pendidikan ke Filipina. Namun tragis, sebelum kapal cita-citanya sampai di pulau harapan, Arisun Sutan Alamsyah yang sedang minta izin pulang kampung, mengalami cedera hebat di kaki, karena bermain bola melawan klub REMZ Sawahlunto.

Sejak mengalami cedera panjang, dia terpaksa membatalkan niat untuk berangkat ke negeri Corazon Aquiono (Filipina), dan memilih jalan hidup baru sebagai seorang guru. Pertama-tama, dia mengajar di Perguruan Jirek Bukittingi. Kemudian pindah ke perguruan Training College Payakumbuh. Selain menjadi guru, Arisun Sutan Alamsyah juga aktif kembali dalam perjuangan bangsa. Buktinya, bersama Dokter Anas (orang Indonesia yang agak bergaya Belanda) serta Sudiro, dia membentuk Badan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan atau Geneskunding Transport Colone (GTC) atau sebuah organisasi yang tugasnya mirip dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Kemudian, pada zaman pemerintahan Jepang, Arisun aktif pula dalam Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat) Kabupaten 50 Kota yang dipimpin Haji Darwis Datuk Tumanggung. Lalu, saat di Payakumbuh muncul Gyu Gun, Arisun St Alamsyah juga turut aktif dalam Gyu Gun ‘Ko En Bu’ Kabupaten 50 Kota .

Menikah dan Jadi Bupati

Pada tahun 1946, Arisun mengakhiri masa lajangnya dengan menyunting gadis manis dari Ladang Laweh Banuhampu Agam, bernama Ros Sa’adah. Kelak, dia dan Ros Sa’adah dikarunai Tuhan seorang putri yang bernama Yulida. Sayang, putri semata wayang itu umurnya tidak panjang, menyusul dengan terjadinya kecelakaan pada pesawat Merpati yang ditumpangi Yulida di sekitar Pulau Katang pada tahun 1969. Masih pada tahun 1946, Arisun mendapat amanah sebagai Wedana pertama di Kewedanaan Suliki, dalam masa kemerdekaan. Wedana Kecamatan Suliki membawahi dua kecamatan, yaitu kecamatan Suliki dengan camatnya DP. Sati, dan Kecamatan Guguk dengan Camatnya Saadudin Syarbani. Setelah terjadi Agresi Belanda, disusul dengan terbentuknya PDRI dan Pemerintahan Militer di Sumbar pada tahun 1948. Arisun Sutan Alamsyah akhirnya diangkat menjadi Bupati Militer Kabupaten 50 Kota. Bersamanya, diangkat pula Anwar ZA menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten 50 Kota.

Tapi menjadi Bupati semasa Agresi Belanda ini tentulah tidak menyenangkan. Bila para Bupati hari ini masih bisa memikirkan rakyat sambil duduk di ruangan atau mobil yang memiliki air conditioner (AC). Arisun Sutan Alamsyah, justru memimpin di tengah desingan peluru dan bom musuh. Bahkan, pada tanggal 10 Januari 1949, ketika Belanda melancarkan operasi ke Suliki dan Koto Tinggi. Akibatnya, Arisun Sutan Alamsyah terpaksa mengajak pejuang dan masyarakat, untuk mengosongkan kawasan Suliki lalu kembali bergerilya. Bukan hanya itu, istri dan anaknya terpaksa pula diungsikan ke rumah Anwar ZA di Koto Kociak, Padang Jopang. Masih akibat serangan pada tanggal 10 Januari tersebut, Gubernur Militer Mr Sutan Muhammad Rasyid, langsung membuat agenda rapat di Situjuh Batua. Sebelum berangkat ke Situjuah Batua, Arisun Sutan Alamsyah bersama Komandan Teritorial Sumatera Barat Dahlan Ibrahim, Ketua MPRD Khatib Sulaiman, Mayor Thalib, Arisun Sutan Alamsyah dan sejumlah tokoh lain, berkumpul dulu di Koto Kociak.

Dari sanalah mereka berangkat ke Situjuah, dengan melalui kawasan Batu Hampa yang merupakan kampung asal ayah Proklamator RI Bung Hatta. Setiba di Situjuah tanggal 14 Januari 1949, mereka langsung menggelar rapat di surau Mayor Makinudin HS yang merupakan ayah kandung Haji Khairuddin. Rapat tersebut berlangsung sampai sampai jauh malam. Karena terlalu lelah, selepas rapat, Arisun Sutan Alamsyah langsung istirahat. Namun takdir berkata lain, ketika ayam jantan mulai berkokok dan halimun pagi baru nampak di ufuk timur, tiba-tiba desingan peluru penjajah mulai menyalak. Lurah Kincia dikepung dari berbagai penjuru mata angin. Para pejuang, ada yang mencoba untuk melawan. Tapi kekuatan tidak seimbang. Bayonet di tangan, tentulah tak bisa menandingi peluru yang muncrat dari moncong senapan. Akibatnya, para pejuang gugur satu-persatu. Arisun Sutan Alamsyah, termasuk satu dari banyak syuhada itu. (***)

Chatib Soelaiman, Kesempurnaan Seorang Pahlawan

Dia tidak hanya seorang pemimpin di medan perang. Tapi juga pemikir dengan bejibun teori. Dia bukan sekedar seniman dan penulis hebat. Tapi juga tokoh yang taat beragama dan tahu adat. Dia tidak cuma kekasih yang romantis, tapi juga kawan yang setia!

Bila ada alasan, kenapa Sumatera Barat harus dikenang sepanjang massa, barangkali nama besarnya adalah salah satu jawaban. Itulah dia Chatib Soelaiman. Mantan Ketua MPRD Sumbar yang gugur dalam Peristiwa Situjuh 1 Januari 1949 ini, memang seorang pahlawan sempurna. Ulama legendaris ranah Minang Haji Abdul Malik Karim Amarullah alias Buya Hamka, dalam kenangannya dengan gamblang mengatakan, perjuangan di Sumbar tidaklah dapat memisahkan nama Chatib Soelaiman, baik di zaman Belanda ataupun pendudukan Jepang, apalagi di zaman sesudah proklamasi.

Chatib Soelaiman menurut sejarah terlahir di Sumpur tahun 1906, sebagai anak kelima dari 8 bersaudara, ibunya bernama Siti Rahma, sedangkan ayahnya adalah Haji Soelaiman. Usia 6 tahun (1912), dia bersekolah di Gouvernement Benteng (Sekolah Dasar) Padang. Kemudian berniat memasuki MULO. Tapi untuk memasuki MULO, anak didik haruslah tamatan HIS, semacam sekolah dasar yang menjadikan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Karena untuk masuk HIS, murid-murid harus dilihat status sosial orangtuanya, dan kedudukan dalam stetsel pemerintah Belanda, atau ketaatan kepada pemerintah Belanda, misalnya dalam membayar pajak, Chatib Soelaiman tidak bisa memasuki HIS milik pemerintah. Untung, ada kawan ayahnya yang berbaik hati, sehingga Chatib bisa masuk HIS Adabiyah, sebuah perguruan swasta yang setingkat dengan HIS Pemerintah.

Setamat dari HIS pada tahun 1919, Chatib Soelaiman baru bercita-cita untuk meneruskan ke MULO. Sayang beribu kali sayang, usaha ayahnya ternyata pailit atau mengalami gulung tikar. Bagaimana mungkin bisa sekolah, jika biaya tidaklah ada. Tapi Chatib tidak menyerah. Berkat bantuan Inyiak Basa Bandaro, lagi-lagi soerang kawan ayahnya yang merupakan tokoh pergerakan dan saudagar di Pasa Gadang, Chatib akhirnya bisa masuk MULO. Cuma sayang, jenjang pendidikan ini tidak selesai ditamatkan oleh Chatib Soelaiman, karena dia justru lebih menekuni dunia seni. Ya, Chatib mulai-mulai ‘tergila-gila’ menggesek Biola.

Jiwa Seniman dan Tentang Pernikahan

‘Kegilaan’ Chatib akan biola, telah berhasil membuatnya menjadi seorang Violis atau penggesek biola terkenal di Kota Padang. Bahkan, dia juga sering untuk mengiringi film-film bioskop yang saat itu masih disebut film bisu alias tanpa suara. Chatib Soelaiman yang terbiasa menikmati kesulitan hidup, mengakhiri masa lajangnya pada tahun 1938. Dia “dinikahkan” dengan gadis sekampung bernama Zubaidah. Dalam pernikahan gaya Siti Nurbaya ini, Chatib Soelaiman memang kurang harmonis. Mungkin karena istrinya Zubaidah berasal dari keluarga berada. Sehingga faktor materi termasuk dalam kalkulasi hidup.

Setelah menikah dengan Zubaidah, Chatib Soelaiman kembali menjalani bahtera rumah tangga dengan menikahi gadis manis dari Bukik Surungan, Padangpanjang bernama Syafiah Emma. Syafiah adalah guru berpendidikan yang menghayati keresahan Chatib. Malang, cinta mereka tidak bertahan lama, karena Syafiah meninggal dunia dalam usia muda dengan dua orang anak. Selang beberapa waktu kemudian, Chatib menikah lagi dengan adik Syafiah Emma bernama Junidar. Junidar adalah seorang bidan. Dengan istrinya ini Chatib Suleman memperoleh tiga orang anak. Dengan demikian, sepanjang hidupnya, Chatib tercatat menjalani tiga kali pernikahan.

Mulai Menjadi Guru

Kisah heroik Chatib Soelaiman sendiri, diawali dengan keaktifan dirinya dalam pergerakan bangsa di Padangpanjang. Dia pernah memimpin HIS Muhammadiyah dan mengajar pada Madratsah Isyadinnas (MIN) Padangpanjang, sekitar tahun 1930. Lalu, pada tanggal 11 Nopember 1932, dia menjadi pengurus PNI Cabang Padangpanjang. Cuma sayang, pada tahun 1934 pemerintah Belanda mengeluarkan larangan mengadakan rapat dan berkumpul (vergader-verbod). Dengan larangan itu otomatis dunia pergerakan mengalami pukulan hebat.

Namun peristiwa itu tidak membuat Chatib berkecil hati. Dia memindahkan gerakannya ke wilayah ekonomi. Bersama Leon Salim, ia menerbitkan Majalah Sinar. Dalam terbitan setebal 32 halaman, Chatib dan Leon membuat karangan untuk saudagar muda dan pelajar-pelajar. Karangan itu terutama menyangkut masalah ekonomi. Setelah itu, Chatib pindah ke Bukittinggi. Bersama dengan teman-temannya Anwar St Saidi, Mr Nasrun dan Marzuki Yatim, Mr Moh Yamin dibangunlah persatuan dagang Bumi Putera. Kecuali di Bumi Putera, ia bersama teman-temannya mendirikan pula sebuah Bank yang dinamakan Bank Nasional. Di zaman penjajahan Belanda sulit ditemui bank-bank swasta. Oleh karena itu mendirikan Bank Nasional harus diakui sebagai suatu keberanian.

Menjelang Belanda Hengkang

Ketika Belanda mulai berakhir dan adanya undang-undang S.O.B yang memunculkan kesadaran politik rakyat. Chatib muncul lagi. Ia merencanakan demonstrasi di Padangpanjang tanggal 12 Maret 1942. Dalam demonstrasi itu pemerintah Belanda dituntut agar menyerahkan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia, atau bukan kepada Jepang. Kecuali itu, Belanda diminta tidak membumihanguskan kekayaaan alam Indonesia .

Waktu demonstrasi, direncanakan akan dikibarkan Merah Putih. Tapi upaya ini dicium Belanda. Akibatnya, pagi Subuh tanggal 12 Maret 1942, Chatib Soelaiman ditangkap dan dibuang ke Kotacane, Aceh. Tanggal 25 Maret 1942, tentara Belanda telah meninggalkan Kotacane. Chatib Soelaiman beserta pejuang bisa menghirup udara bebas. Sementara rakyat, mulai mencari keberadaan mereka. Lalu pada tanggal 31 Maret 1942, Chatib kembali di tengah rakyat Sumbar. (Fajar Rillah Vesky)

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Chatib Soelaiman membentuk ”Pemuda Nippon Raya”. Sepintas lalu, organisasi ini Pro-Jepang. Tapi ditilik lebih jauh, organisasi ini bertujuan untuk menyelamatkan pergerakan dari Jepang. Awalnya, Jepang suka dengan kehadiran Pemuda Nippon Raya. Tapi kemudian Jepang membubarkan. Chatib Soelaiman ditangkap lagi. Selang beberapa waktu, dia kembali dibebaskan. Kemudian, Jepang membuat Syu Sangi Kai atau sejenis Dewan Perwakilan Rakyat di Sumatera Tengah. Mohammad Syafei ditunjuk sebagai Ketua, Chatib Soelaiman aktif pula di sana .

Saat Indonesia Merdeka

Ketika Republik Indonesia dinyatakan Merdeka, pada Desember 1945 Chatib Soelaiman bergabung dengan Partai Masyumi. Pada akhir tahun, dia mempersiapkan pula Partai sosialis sebagai reinkarnasi dari Pendidikan Nasional Indonesia. Sekitar tahun 1947, tepatnya pada tanggal 21 Januari 1947, Chatib dan kawan-kawan pergi ke Jawa, menghadiri sidang Komite Nasional Indonesia Pusat yang akan diadakan di Malang. Chatib Soelaiman kembali ke Sumbar pada pertengahan Mei 1947.

Mengenai keterlibatan Chatib Soelaiman dalam peristiwa Situjuah 15 Januari 1949. Sesungguhnya, tidak terlepas dari serangan Belanda ke Koto Tinggi pada tanggal 10 Januari 1949. Serangan tersebut sangat telak dan membuat Koto Tingi sebagai tempat kedudukan Gubernur Militer jadi sedikit darurat. Makanya, setelah pasukan Belanda meninggalkan Koto Tinggi, pemimpin republik di Sumatera Tengah langsung berkumpul kembali. Mereka berniat untuk menggelar rapat penting. Dalam rapat tersebut disepakati sejumput keputusan, termasuk menggelar pertemuan yang lebih lengkap singkat dan penting di daerah Situjuah Batua, tanggal 15 Januari 1949.

Untuk pertemuan tersebut, Chatib diutus Gubernur Militer Sumbar Sutan Muhamad Rasyid datang ke Situjuah Batua. Maka pada tanggal 12 Januari 1949, Chatib Soelaiman, bersama Dahlan Ibrahim, Mayor A Thalib, berangkat dari Koto Tinggi menuju Koto Kociak, Padang Jopang. Di sana mereka bermalam, dan sudah dinanti oleh Bupati Militer Limapuluh Kota Arisun Sutan Alamsyah. Setelah menginap semalam di rumah Sekwilda Anwar ZA, rombongan ini kemudian berangkat ke Situjuah Batua tanggal 13 Januari 1949, dengan melewati Nagari Batu Hampa. Di Batu Hampa, mereka bertemu dengan pemimpin setempat dan menggelar pertemuan pula. Baru tanggal 14 Januari 1949, sekitar jam 10 malam, Khatib Sulaiman sampai di Situjuah Batua. Dia langsung memimpin rapat dengan sejumlah tokoh penting.

Karena terlalu lelah, selepas rapat Chatib Soelaiman langsung istirahat. Namun takdir berkata lain, ketika ayam jantan mulai berkokok dan halimun pagi baru nampak di ufuk timur, tiba-tiba desingan peluru penjajah mulai menyalak. Lurah Kincia dikepung dari berbagai penjuru mata angin. Para pejuang, ada yang mencoba untuk melawan. Akibatnya, para pejuang gugur satu persatu, termasuk Chatib Soelaiman. Namun sebelum menghadap Sang Khalik, Chatib Soelaiman sempat menulis puisi pada kertas bungkus rokok. Puisi itu diberikan kepada Dahlan Ibrahim. Sebelum menutup tulisan ini, simaklah sepenggal puisnya: “Kekasihkuhttp://pdri.multiply.com/Siapa kuasa memecah cinta/Tumbuh murni antara kita/Biar aku kejam di asing/Dipaksa suruh beralih kasih/ dan dikau kini jauh/ tiada hilang dimusnahkan orang… (Fajar Rillah Vesky )

Munir Latief, Cincin Cinta Anak Saudagar

Ayahnya seorang saudagar tenun yang terkenal. Pamannya, Wali Kota Padang pertama sejak Indonesia merdeka. Tapi dia tidak pongah, juga tidak suka hura-hura. Paling benci dengan manusia pendendam, selalu hidup sederhana. Ketika menjadi Tentara berpangkat Mayor, fasilitasnya yang cukup justru dimanfaatkan untuk perjuangan bangsa, bukan untuk keluarga! Itulah dia Letnan Kolonel (Anumerta) Munir Latief. Tentara pejuang berdarah Koto Anau Solok dan Silungkang Tanahdatar, yang tewas sebagai Syuhada dalam peristiwa berdarah di Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, 15 Januari 1949 silam.

Terlahir sekitar tahun 1925 sebagai anak ke 7 dari 14 saudara satu ibu, dan 30 saudara satu ayah di Padang ”Kota Padang Tercinta Kujaga dan Kubela”. Ibunya bernama Hj Siti Dalisah. Kakeknya adalah Tuanku Lareh Silungkang, Dja’ar Sutan Pamuncak. Ayah Munir Latief yang bernama Haji Abdul Latief, pernah menjadi Komisaris sebuah perusahan terkenal milik Belanda, yakni Pabrik Tenun Padang Asli yang memproduksi kain sarung Cap Kopi. Kawan akrab ayahnya sesama Komisaris di perusahan tersebut adalah Haji Turki. Walau agak dekat dengan Belanda, tapi Abdul Latief sangatlah dikagumi rakyat. Apalagi wataknya amatlah dermawan dan suka mewakafkan tanah, termasuk tanah di Simpang Haru dan Pasa Mudiak Padang yang diwakafkan untuk pembangunan masjid. Kelak, sikap derwaman ini juga menurun kepada anaknya Munir Latief.

Pendidikan dan Karier

Kembali pada Letkol (Anumerta) Munir Latief. Dia pernah mengecap pendidikan pada Sekolah Adat dan MULO Padang. Setelah itu melanjutkan ke HBS Jakarta, tapi pendidikannya tidak selesai karena Jepang sudah masuk dan ”menguasai” Indonesia. Lantaran itu, Munir Latief kembali ke Padang sambil memasuki pendidikan calon perwira Gyu Gun angkatan pertama. Menurut pelaku sejarah, saat itu Munir Latief satu angkatan dengan Dahlan Jambek, Ahmad Husen, Ismail Lengah, Dahlan Ibrahim, A Thalib, Sofyan Ibrahim, Syarif Usman, K Datuk Malilik Alam, Nurmatias, dan lainnya. Dalam pendidikan tersebut dia memperoleh pangkat Gyu Syool atau Letnan II.

Setelah Jepang Hengkang, Gyun Gun dibubarkan. Tapi banyak opsirnya tetap aktif dan menyusun kekuatan di Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang tersebar di Sumatera Tengah. BKR ini kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 1 Januari 1946 diresmikan TKR Sumatera Barat dan Riau menjadi Divisi III dengan komando Kolonel Dahlan Djambek. Suatu langkah penting yang diambil pada waktu itu adalah mendirikan Sekolah Pendidikan Opsir di Bukittinggi.

Kolonel Ismail Lengah diangkat sebagai Direktur Pendidikan Opsir tersebut. Tetapi kemudian ia dipindahkan ke Komando Sumatera. Kedudukannya sebagai Direktur Pendidikan opsir, digantikan oleh Mayor Munir Latif. Di bawah Pimpinan Munit dilaksanakan pendidikan Angkatan kedua yang diikuti 60 orang Calon Kadet, di antaranya termasuk Jamaris Yunus, Azwar, Anwar Bey, Burhanuddin, Tazwar Akbid, Lukman Madewa dan lainnya. Seusai Pendidikan Opsir angkatan ke-2 ditutup dengan resmi pada tanggal 18 Juni 1947. Mayor Munir Latif akhirnya dipindahkan dan diangkat menjadi Komandan Bataliyon III/Resimen II di Sungai Penuh. Setelah itu, sebagai seorang Tentara ia kembali dimutasi lagi ke Bukittinggi untuk memimpin Pendidikan Divisi IX. Sementara kedudukannya sebagai komandan Bataliyon di Sungai Penuh, digantikan oleh Mayor Sjoeib.

Ode Sebuah Cincin

Meski sudah berpangkat Mayor dan mempunyai cukup fasilitas. Namun Munir Latief tetap sederhana dan menganggap belum waktunya untuk menjalani bahtera rumah tangga. Padahal, keluarganya sudah mendesak, agar Munir Latief segera bekeluarga. Tapi desakan itu selalu ditolak dengan alasan tugas belum mengizinkan dan perjuangan belum selesai. Saat Kota Bukittinggi diduduki Belanda, seluruh pejabar militer dan pemerintahan mulai menyingkir ke luar kota. Paman Munir Latief, Mr Abu Bakar juga menyingkir ke Batusangkar. Sejujurnya, Abu Bakar sudah lama betul meminta Munir Latif menikah dengan anaknya Amalaswinta. Namun ide maminang anak mamak itu selalu ditolak Munir Latief. Tapi entah bagaimana kisahnya, ketika permulaan Agresi Belanda ke-2 meledak. Munir Latief justru tidak bisa menolak ide Abu Bakar yang kembali meminta dirinya menikah dengan Amalaswinta. Tiga hari setelah pernikahan yang berlangsung sederhana, dihadiri kerabat dan dan kawan dekat, Munir Latief berangkat ke Kabupaten Limapuluh Kota untuk menemui Gubernur Militer dan Panglima Territorial di Koto Tinggi.

Syahdan menurut cerita, dalam perjalanan tersebut, Munir Latief yang belum sempat berbulan madu, mampir di sebuah warung. Saat itu, dia tahu kalau cincin permata hadiah cinta dari mertuanya saat pernikahan, justru hilang. Akibatnya, Munir Latief kaget bukan kepalang. Dia yakin, cincin itu hilang tidak jauh dari warung tempat ia duduk. Karenanya, meminta seseorang untuk mencari hingga cincin cinta itu ditemukan kembali. Tapi aneh sekali, setelah cincin didapat, Munir Latief justru enggan untuk memakainya kembali. Seperti pernah ditulis wartawan senior Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, Kamardi Rais justru menyuruh seorang pembantunya untuk mengantarkan kembali cincin itu kepada mertuanya yang berada di Sumaniak, Tanahdatar. Menerima cincin dari pembantu Munier Latirf, mertuanya jadi terkejut sekali. Timbul pertanyaan dalam hati, ”Apa arti dibalik semua ini”? Adakah ini sebuah firasat aneh?

Di Nagari Andaleh, Munir Latief bertemu dengan Komandan Batalyon Singa Harau Kamaruddin Datuk Machudum, serta Kapten Zainuddin Tembak yang merupakan bekas wakilnya semasa sekolah Pendidikan Opsir ada di Bukittinggi. Pada pertemuan itu, kedua pejuang ini menerima undangan rapat penting yang diadakan di Situjuah Batua, 15 Januari 1949. Karenanya, Munir Latief dan Zainudin Tembak, berangkat dari Andaleh dan sampai di surau milik Mayor Makinudin HS, tanggal 14 Januari 1949. Selesai rapat, Syofyan Ibrahim sempat mengajak Munir Latief untuk tidur di tempat lain. Tapi, dia mengaku terlalu lelah dan ingin tidur di surau saja. Cuma apa hendak dikata, subuh harinya takdir berkata lain. Ia gugur ditembak peluru penjajah, bersama sederet para syuhada. (bersambung)

Syamsul Bahri, Orang Muda yang Menyabung Nyawa

Berpuluh tahun lalu, Proklamator RI Bung Karno pernah mengatakan, ”Berikan kepadaku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan Indonesia”. Pernyataan founding fauther ini jelas memiliki makna, betapa besar peranan anak muda dalam sebuah bangsa. Bahkan, tidak sedikit revolusi di dunia, justru diprakasai oleh orang-orang berusia muda.

Dalam tragedi berdarah mempertahankan merah putih dari gencarnya Agresi Belanda II di Lurah Kincia Situjuah Batua, 15 Januari 1949 lalu, juga ada seorang pejuang berusia muda belia yang gugur di terjang peluru penjajah. Namanya adalah Syamsul Bahri. Pangkat terakhirnya Letnan Dua. Dia lahir di Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar tahun 1928. Tahun di mana semangat pemuda Indonesia sedang bergelora sebagai satu bangsa, tanah, pun bahasa!

Masa kecil Syamsul Bahri, sedikit susah dilacak sejarah. Tapi ayahnya diketahui bernama Zainal Abidin Datuk Rajo Ali, seorang pemuka rakyat berjiwa sosial, disegani, dan sering berbuat untuk pembangunan nagari. Semasa tambang emas di Manggani masih jaya, Zainil Abidin Datuk Rajo Ali pernah bekerja sebagai annamer dan leverransir, sekitar tahun 1911 sampai 1930. Sedangkan ibu Syamsul Bahri bernama Zubaidah, perempuan sholehah yang sederhana. Dalam keluarga, Syamsul Bahri diketahui merupakan anak ketiga dari enam bersaudara seayah. Saudaranya yang lain adalah Letnan Damanhhuri ZA, serta Anwar ZA yang merupakan bekas Sekda Limapuluh Kota dan Sekwilda Pasaman. Pendidikan Syamsul Bahri kecil, dimulai dari Sekolah Desa di Padang Japang dan Sekolah Gubernemen di Dangung-dangung. Sayang, kapan tahunnya belum bisa diketahui dengan pasti.

Pernah ke ”Neraka Dalam Rimba”

Semasa Jepang berkuasa di Ranah Minang, Syamsul Bahri Bahri pernah dikirim untuk bekerja paksa ke daerah Logas yang disebut wartawan senior Marthias Duski Pandoe dalam tulisannya di Padang Ekspres, sebagai ”Neraka Dalam Rimba”. Selaku orang yang dipercaya menjadi kepala rombongan ke Logas, Syamsul Bahri ketika itu benar-benar merasakan betapa kejamnya militer Jepang. Betapa pahitnya hidup sebagai bangsa terjajah. Di Logas, ia melihat korban-korban berjatuhan akibat kelaparan dan kerja paksa. Banyak yang mati karena kerja sangat berat, sedangkan makanan tidak ada. Bahkan, ada di antara pekerja yang tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang, tapi tetap dipaksa mengangkat sekarung semen, memikul balok, dan benda berat lain. Atas kondisi tersebut, hati kecil Syamsul Bahri berontak. Dia tidak mau pasrah begitu saja kepada pemerintah Jepang serta Mandor yang sering menghardik-hardik. Dengan kecerdasan dan sikap, akhirnya dia bisa keluar dari pedihnya penyiksaan ”Neraka Dalam Rimba” bersama rombongan yang ia pimpin.

Masuk Batalyon Singa Harau

Ketika Indonesia mulai menghirup udara kemerdekaan sekitar tahun 1946, Syamsul Bahri masuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Payakumbuh. Dia bekerja sebagai staf Keuangan bagian perlengkapan dan Pengangkutan (P&P) Batalyon Singa Harau bersama Junahar, dengan pangkat Sersan Mayor. Semasa itu, Bagian P&P yang terletak di bekas gedung gudang garam kampung Cina Payakumbuh, langsung dipimpin oleh Komandan Batalyon Singa Harau, Mayor Makinudin HS. Menurut cerita Makinudin HS pada anaknya Haji Khairuddin, sekitar bulan Juli 1944, Serma Syamsul Bahri dan Serma Junahar ikut pindah tugas ke bagian Perlengkapan dan Pengangkutan Divisi III Bukitttingi.

Bagian yang memiliki kantor di lantai dua Toko Tokra Jalan Kampung Cina ini juga dipimpin masih Makinudin HS. Sedangkan Bagian Perlengkapan dikepalai oleh Kapten Amiruddin Kr, sementara untuk Bagian Pengangkutan dikepalai oleh Letnan Satu Kamaluddin ”Tambiluak”, tokoh kontroversi dalam peristiwa Situjuah. Ketika Bukittinggi dibumihanguskan, pada Desember 1948, Syamsul Bahri ikut menyingkir ke Payakumbuh, kemudian terus ke VII Koto Talago. Lalu, pada tanggal 12 Januari 1949, ia ikut berangkat bersama rombongan Dahlan Ibrahim dari Koto Kociak menuju Situjuah Batua. Terakhir, pada tanggal 15 Januari 1949, dia menghadap Sang Khalik. Anak muda itu pergi untuk selamanya. Walau belum berbuat banyak, setidaknya, Syamsul Bahri telah menjadi icon betapa anak muda, juga memiliki peranan saat Republik ini digempur Agresi II Belanda. Hidup anak muda! (Fajar Rillah Vesky)

Kapten Thantowi, Syahidnya Anak Sahabat

Bagi warga Sumatera Barat yang pernah merunut sejarah pendidikan agama Islam, nama Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah, tentu tidaklah asing. Dua saudara ini tidak hanya terkenal sebagai ulama yang memiliki banyak jamaah. Tapi juga kesohor karena mendirikan perguruan Darul Funun El-Abbasiyah di Padang Japang. Pada masa keemasannya, Darul Funun El-Abbasiyah tidak hanya memiliki murid dari berbagai pelosok Sumbar, melainkan juga dari berbagai provinsi sekitar, termasuk dari negeri Jiran Malaysia. Perguruan Islam ini juga pernah dikunjungi Proklamator Republik Indonesia Ir Soekarno.

Konon, kabarnya, Syekh Abbas Abdullah dan Mustafa Abdullah, merupakan dua dari sederet orang yang pernah diminta nasehat spritualnya oleh Bung Karno. Lalu, apa hubungannya dengan Kapten Thantowi, satu dari 69 pejuang yang tewas dalam tragedi peristiwa Situjuah? Nah, Kapten Thantowi yang lahir tahun 1926 di Nagari Aiatabik (sekarang masuk dalam Kecamatan Payakumbuh Timur) dari ibu bernama Dariham, ternyata adalah putra kandung dari Syekh Mustafa Abdullah.

Di Aiatabik, Kapten Thantowi Mustafa yang namanya sekarang sudah diabadikan sebagai nama sebuah lapangan bola kaki di Payakumbuh, terkenal sebagai pemuda berani, ta’at beragama, suka tantangan, dan sering dijuluki ”Tuanku Nan Pahik”.
Gelar ”Tuanku Nan Pahik” tentu tidak diberikan sembarangan saja kepada Kapten Thantowi. Sebab menurut HC Israr, bekas anggota DPRD Sumbar yang semasa hidupnya rajin menulis sejarah, sosok ”Tuanku Nan Pahik” adalah sosok seorang ulama yang berani, berpendirian teguh, serta pengikut dari Tuanku Imam Bonjol. Pernah diceritakan HC Israr kepada penulis, bahwa sekitar tahun 1832, ”Tuanku Nan Pahik” yang setia dengan Tuanku Imam Bonjol, tampil dalam pertempuran melawan Belanda yang hendak menaklukkan Aiatabik, Bukik Sikumpa dan Halaban. ”Sayang, takdir berkata lain. Tuanku Nan Pahik gugur dalam pertempuran tersebut, dan dimakamkan di tanah taban dekat lereng Gunung Sago, dalam Kanagarian Sungai Kamuyang (sekarang masuk dalam Kecamatan Luak),” begitu cerita HC Israr menjelang akhir hayatnya.

Kembali pada Kapten Thantawi, karena dia adalah cicit dari Tuanku Nan Pahik yang pemberani, maka diberilah gelar itu kepadanya. Kapten Thantowi sendiri menempuh pendidikan Sekolah di Aiatabik. Lalu dilanjutkan ke Schakel School Payakumbuh. Setamat dari situ, dia masuk ke sekolah Gubernemen di Dangung-dangung. Kemudian, Kapten Thantowi meneruskan pendidikan di Ambch School Padangpanjang dan pendidikan Kadet Bukittinggi. Selesai menempuh pendidikan Kadet tahun 1947, dia masuk dalam kesatuan Bataliyon Merapi Padangpanjang dengan pangkat Letnan Muda. Selama di Bataliyon Merapi, Kapten Thantowi pernah ditugaskan di Lubukbasung dan Simpang Tonang. Lalu pada tahun 1948, dia pindah ke Padang Mangateh.

Kiprah Semasa Agresi

Ketika permulaan Agresi Belanda II meletus, Kapten Thantowi ditangkap menja di Komandan Kompi I Bataliyon Merapi dengan pangkat Letnan II. Mengenai kehadirannya dalam rapat malam hari tanggal 14 Januari 1949 di Lurah Kincia Situjuah Batua. Kapten Thantowi saat itu bertindak mendampingi komandan Pertempuran Payakumbuh Selatan, Kapten Kamaruddin Datuak Machudum. Namun malang , pada subuh hari dia ikut menjadi korban keganasan peluruh penjajah yang membabi-buta di Lurah Kincia. Sebagai prajurit sejati, ia telah berupaya menghadapi serangan Belanda sampai tetes darah penghabisan. Namun sebelum wafat, Kapten Thantowi seperti halnya Munir Latief, juga meninggalkan prilaku ”aneh” yang selalu dikenang keluarga. Bila Munier Latief mengembalikan cincin permata pemberian mertuanya. Maka, Kapten Thantowi sebagaimana ditulis wartawan senior Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, pernah tergopoh-gopoh mencari notesnya yang tidak ditemukan dalam.

Padahal saat itu, Kapten Thantowi baru saja minta izin kepada pamannya Rais Datuk Machudum dan adiknya Mustafa untuk pergi meninggalkan rumah. Tapi baru sampai di Balai Adat Nagari Aiatabik, ia kembali pulang untuk mencari buku. Akhirnya, kata Kamardi, buku Kapten Thantowi itu baru ditemukan di tebing sumur, tidak jauh dari rumah gadang kaum mereka. Namun buku itu sudah lembab. Beberapa catatan harian yang ditulisnya juga sudah kabur dan mengembang. Atas peristiwa itu, pamannya yang merupakan ayah kandung Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie memberi wejangan kepada Munir Latief. ”Lain kali, kalau sudah berangkat, jangan balik lagi, celaka kata orang tua-tua!” ”Antah iyo, indak ka babaliak (Apa betul, tidak akan kembali?)”jawab Thantowi pelan, seperti orang bercanda. Ternyata, Thantowi Mustafa memang tak kembali dari Situjuah. Yang pulang ke kampungnya di Aiatabik, cuma nama. (***)

Kamaluddin Tambiluak, Kontroversi Si Sayap Kanan

Ia bertubuh pendek dan gempal. Orang Minang menyebut ukuran tubuh seperti itu dengan istilah ’Sabuku”. Kulitnya agak hitam, tapi larinya kencang bagaikan kilat. Karena itu dia dijuluki ”Tambiluak” atau sejenis serangga berwarna hitam kekuningan yang bisa terbang kencang dan hidup pada pohon kelapa atau aren. Sebelum menjadi serdadu pada Bagian Perlengkapan dan Pengangkutan (P&P) Batalyon Singa Harau pimpinan Mayor Makinuddin HS, Kamaludin Tambiluak bekerja sebagai tukang gunting di pangkas rambut Sutan Kerajaan Barbier, yang terletak di Jalan Gajah Mada Payakumbuh.

Layaknya tukang gunting, Kamaluddin Tambiluak memiliki banyak pelanggan. Salah satu pelanggannya adalah Dokter Anas. Menurut cerita HC Israr (penulis sejarah/mantan Anggota DPRD Sumbar), Dokter Anas adalah bekas Kepala Rumah Sakit Payakumbuh. Dia asli pribumi Indonesia, tapi gaya dan pola pikirnya, sangat kebelanda-belandaan. Dialah intelektual yang pernah mempelopori berdirinya negara ”Minangkabau”. Ketika ide negara ”Minangkabau” ini diusungnya, Dokter Anas mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Belanda. Bahkan, dia dipersiapkan untuk menjadi calon Kepala Negara. Tapi ide negara ”Minangkabau” itu kemudian ”mati dalam kandungan” menyusul dengan tercapainya persetujuaan antara Indonesia-Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Selepas persetujuan itu, Dokter Anas langsung memboyong istrinya Jus Anas dan dua anaknya, untuk bertolak ke negeri Kincir Angin Belanda. Di sanalah, sang Dokter yang sempat menjadi Manajer Club Horizon, sebuah kesebelasan dari Payakumbuh ini menikmati masa hidupnya hingga tutup usia.

Kesebelasan Horizon sendiri tercatat sebagai klub tangguh dari Payakumbuh yang tergabung dalam Bond Eleftal (Bond Kesebalasan). Kamaluddin Tambiluak merupakan ”Sayap Kanan” paling kesohor dari Horizon. Kamaluddin Tambiluak sendiri, menurut Haji Kahiruddin (anak Wedana Militer Payakumbuh Selatan Makinudddin HS), asli berasal dari Kota ”Serambi Mekkah” Padangpanjang. Bahkan Haji Khairuddin yakin, kalau Kamaluddin memiliki rumah di belakang Bioskop Karya Padangpanjang. Sepanjang hidupnya, Kamaluddin Tambiluak tercatat pernah menikah satu kali saja, dengan perempuan bernama Nur Cahaya. Dalam pernikahan dengan Nur Cahaya yang asli Payakumbuh, dia dikaruniai seorang anak. Kelak, anak (lagi-lagi belum diketahui namanya) beserta istri Kamaluddin Tambiluak ikut dihabisi nyawanya.

Pengkhianat atau Pahlawan? Alih-alih soal rumah tangga Kamaluddin Tambiluak dengan Nur Cahaya. Sekarang, saatnya menulusuri keberadaan mantan Intel tentara Sumatera Tengah itu dalam peristiwa Situjuah. Betulkah dia seorang pengkianat, sebagaimana cerita yang beredar dari mulut ke mulut, bahkan sampai dari sekolah ke sekolah? Atau jangan-jangan Tambiluak cuma seorang pahlawan bangsa yang menjadi korban hukum revolusi? Dua pertanyaan itu memang seperti mata uang berlainan. Selalu terjadi silang pendapat hebat dan mungkin tidak pernah berkesudahan untuk dijawab. Satu sisi, banyak pejuang dan saksi sejarah dalam Peristiwa Situjuah yang menyebut Tambiluak benarlah seorang pengkhianat bangsa. Bahkan, sebelum insiden berdarah terjadi di Situjuah Batua tepatnya tanggal 13 Januari 1949, seorang anggota Badan Penerangan bernama Syamsul Bahar yang menerima tugas darurat dari komandannya, dilaporkan bertemu dengan Kamaluddin Tambiluak.

Dalam pertemuan itu Kamaluddin mengajak Syamsul Bahar, agar datang dalam rapat penting tanggal 15 Januari 1949. Karena sudah pernah mengenal Tambiluak semasa ikut Kongres BKPRI di Yogyakarta, pada tanggal 14 Januari 1949, Syamsul Bahar ikut berangkat ke Situjuah dan sampai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Bersama rombongan, dia langsung masuk ke surau milik Mayor Makinuddin HS. Rupanya, dalam surau itu sudah penuh dengan pejuang yang melepas lelah. Karena kondisi tersebut, Syamsul Bahar pindah ke sebuah bangunan yang merupakan surau usang. Dia bermaksud istirahat sejenak, menjelang ikut rapat. Tak tahunya di halaman surau yang gelap, ada seorang lelaki bermenung diri. Awalnya, Syamsul Bahar dan kawan-kawanya, tidak menghiraukan lelaki tersebut. Tapi ketika Syamsul Bahar hendak menjemput barangnya yang masih ketinggalan di Surau Makinuddin, dia mencoba mendekati lelaki yang bermenung diri. Ternyata orangnya adalah Kamaluddin Tambiluak. Merasa kaget dengan prilaku Kamaluddin, Syamsul Bahar lalu menanyakan gerangan apa yang membuat Kamaluddin bermenung diri. Tapi, Kamaluddi hanya menjawab dingin:”Ah, tidak ada apa-apa!”.

Perubahan sikap Kamaluddin yang sangat drastis ketika berada di Lurah Kincia, ternyata tidak hanya dirasakan oleh Syamsul Bahar menjelang rapat di Situjuah. Ketika rapat selesai, Tambiluak juga berpirilaku aneh dan ganji. Waktu itu para pejuang baru saja salam-salaman dan bermaksud hendak istirahat di Surau Makinuddin.

Ketika para pejuang mulai beristirahat, ada seseorang lelaki yang sangat antusias bercerita tentang kemenengan Belanda dan kekalahan Indonesia. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak menceritakan itu. Syamsul Bahar yang sedang ”tidur-tidur ayam” kaget bukan kepalang mendengar cerita tersebut. Entah serius, entah berkelakar, yang jelas seumur-umur menjadi pejuang, baru kali itu Syamsul Bahar mendengar ada pemimpin dan tentara yang dengan gembira memuji musuh bernama Belanda.

Maka, timbullah tanda tanya besar di hati Syamsul Bahar. ”Siapa orang yang bercerita itu? Adakah sebuah keseriusan yang ia ucapkan?” Lalu, Syamsul yang tidur beralaskan tikar usang dan berselimut kain sarung sendiri, mengintip orang tersebut. Di balik remangnya lampu cogok (tradisionil), Syamsul bahar melihat dengan jelas wajah orang itu. Ternyata dia adalah Kamaluddin Tambiluak. Waw, mengagetkan sekali!

Setelah Peristiwa Situjuah terjadi, Tambiluak makin berprilaku aneh. Tanda-tanda keanehan Tambiluak itu terlihat ketika ia mencari-mencari Mayor A Thalib yang sedang terluka parah pada bagian paha karena ditembak oleh Belanda (lebih lengkap tentang ini nanti bisa anda baca dalam buku penulis berjudul ”Tambiluak – Secuil Tentang Peristiwa Situjuah” yang akan dilaunching Februari mendatang).

”Menantang Maut” di Padang Mangateh

Sekarang, tinggalkan dulu cerita tentang perubahan sikap dan keanehan Tambiluak, mari melayangkan pikiran pada sebuah peristiwa sejarah tanggal 23 Januari 1949, yang menjadikan Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak sebagai aktor penting sekaligus pemeran ”antagonis”. Ketika itu terjadi pertemuan di daerah bernama Aia Randah, antara Dahlah Ibrahim, dengan Syofyan Ibrahim, dan sejumlah pula sejumlah pejuang bangsa.

Dalam pertemuan, Dahlan Ibrahim mendengarkan laporan tentang peristiwa Situjuah. Dari semua laporan, diperoleh benang merah, bahwa Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak memang telah menjadi pengkhianat. Karenanya, dia harus diadili! Ketika rapat sedang dilangsungkan, Kamaluddin berada di Gaduik. Karenanya, untuk mengorek keterangan Tambiluak, peserta rapat sepakat, kalau dia harus dijeput. Sebagai dalih, dikatakan bahwa rapat akan dilanjutkan ke daerah Padang Mangateh, dan Tambiluak diminta kehadirannya. Rupanya, ide peserta rapat ini termakan pula oleh Tambiluak. Bak seekor buruan, dia tidak tahu kalau sudah masuk dalam perangkap. Kemudian ikut berangkat ke Padang Mangateh sekitar pukul 18.30 malam.

Akhirnya, sesampai di Padang Mangateh, sebagian rombongan yang pura-pura datang untuk rapat, langsung masuk ke dalam sebuah rumah. Sedangkan sebagian lain, berjaga-jaga di luar rumah yang konon kabarnya, merupakan bekas tempat tinggal seorang dokter hewan. Dari dalam rumah, Tambiluak akhirnya mulai diinterogasi. Ditanya ini dan itu. Namun dia justru ”dianggap” menjawab dengan bertele-tele. Tak lama kemudian, Tambiluak dipanggil ke luar rumah oleh seseorang. Belum sampai di luar rumah atau baru tiba di pintu. Seorang bernama Tobing, tiba-tiba tak bisa mehanan emosi. Diserangnya Tambiluak dengan golok. Ditebasnya bagian kepala itu hingga tinggal rambut di golok.

Ajaib sekali. Serangan untuk Tambiluak ternyata tidak tepat sasaran. Mungkin rambutnya terlalu tebal, mungkin juga karena dia pakai topi warna hitam. Tapi beberapa pelor yang ditembakkan, juga melenceng. Sehingga Tambiluak bisa melarikan diri dalam kegelapan malam. Dia melompat tebing, melewati sungai kecil. Orang-orang yang ada di Padang Mangateh, berupaya untuk mengejar. Tapi sia-sia. Tambiluak menghilang tanpa jejak. Mereka yang mencari, terpaksa kembali dengan tangan kosong. Tak lama Tambiluak akhirnya benar-benar menghilang tanpa jejak. Kemudian, beredar informasi, dia tewas dibunuh pasukan Panah Beracun yang merupakan bekas anak buahnya sendiri, di kawasan Padang Tarok.

Tambiluak Juga Pahlawan?

Kini, Kamaluddin Tambiluak memang telah tiada. Stigma pengkhianat, melekat pada tubuhnya. Tapi, di balik kematian Tambiluak, sekarang justru muncul berbagai kontraversi. Bahkan, ada yang berani menyebut Tambiluak juga pahlawan. Adalah Haji Khairuddin Makinuddin, putra mantan Wedana Militer Payakumbuh Selatan, yang menilai Tambiluak tidak bisa disebut sebagai pengkhianat di balik peristiwa Situjuah.

Sebab menurut Haji Khairuddin, beberapa hari menjelang tanggal 15 Januari 1949, pesawat capung alias helikopter milik Belanda, telah berputar-putar di sekitar Lurah Kincia. Kemungkinan besar, awak pesawat tersebut sedang mengawasi kegiatan yang dilakukan warga dan pejuang.

Selain alasan tersebut, Haji Khairuddin menganalisa, bisa jadi Tambiluak dicap sebagai pengkhianat, karena faktor kecumburuan sosial. Alasannya, secara ekonomi Tambiluak memang lebih mapan dari beberapa pejuang. Sebab sebelum Agresi Belanda Kedua, sosok yang pernah menjadi Wakil Kepala Intelijen Sumatera Tengah ini, pernah dipercaya untuk menukar getah dan candu dengan senjata ke Singapura.

Kamaluddin Tambiluak berangkat menaiki kapal lewat ke Sungai Siak. Namun kemudian, getah dan candu yang dibawah Tambiluak tidak jadi bertukar dengan senjata. Karena dia dicegat oleh kapal patroli Belanda yang ada di Sungai Siak. Bisa candu dan getah yang dibawa Tambiluak, tidak dia setorkan seluruhnya atau dijual. Sehingga dia memiliki sisa barang berharga itu sebagai tambahan hidup. Karenanya, tentu saja akan ada pejuang yang mengalami kecemburuan sosial.

Sebelumnya, sejarahwan UNP Mestika Zed juga pernah menyatakan, bahwa Tambiluak bukanlah pengkhianat. Ditegaskan Mestika Zed, tidak ada data kuat yang menunjukkan, bahwa Tambiluak adalah pengkhianat dalam Peristiwa Situjuh Batua 15 Januari 1949. Karena itu hanya sebatas isu yang kemudian sengaja dibesar-besarkan. Untuk mendukung pendapatnya, Mestika dalam tulisan itu memunculkan argumen dengan teori dan logika. Dia menjelaskan, bahwa ketika pagi-pagi Peristiwa Situjuah terjadi, Tambiluak lari mencari Dahlan Jambek (Pimpinan Militer Sumbar paling disegani saat itu, Red).

Akhirnya, terlepas dari berbagai versi di atas, agaknya memang perlu diambil sebuah benang merah, bahwa revolusi memang kerap memakan anak sendiri. Walau begitu bukan berarti pula, revolusi harus disalahkan. Peristiwa Situjuah adalah peristiwa besar untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apapun romantika dan kisah di belakangnya, janganlah membuat Peristiwa Situjuah jadi bernilai kecil. (Fajar rillah vesky)

Kapten Zainuddin, Penembak Jitu Berdisiplin

Dia adalah tipe pejuang berkemauan keras, pantang menyerah, dan sangat menjunjung tinggi disipilin. Baginya, setiap tentara harus bisa berbuat apa saja. Kalau tidak, jangan menjadi abdi negara! Prinsip itulah yang membuat sosok dengan panggilan populer Kapten Zainuddin ”Tembak” ini, jadi disegani pasukannya di Batalyon Singa Harau. Baginya tidak ada kata menyerah sebelum dicoba. Sekali layar terkembang, pantang surut biduk kembali. Sekali senapang dikokang, pantang untuk terbuang, kecuali bersarang di tubuh penjajah. Meski demikian, sebagai manusia ciptaan Tuhan, Zainuddin juga memiliki sedikit sifat yang susah untuk dikendalikan, apalagi kalau bukan pemarah dan tempramen. Buktinya, gelar ”Kapten Tembak” yang dijuluki kepada Zainuddin, tercipta karena dia memang gampang main tembak. Dia tidak senang kalau ada anak buahnya yang tidak berdisplin, apalagi melanggar jati diri prajurit sejati.

Kapten Zainuddin sendiri menurut beberapa keterangan lahir di kawasan Lubuak Bagaluang, Kota Padang, sekitar tahun 1924 dari perempuan yang biasa dipanggil Mak Inen. Sedangkan ayahnya bernama Bachtiar, seorang pejabat pada Kantor Gemente Pemerintah Belanda di Padang. Lalu beberapa tahun terakhir, juga diperoleh informasi kalau Zainnuddin Tembak memiliki seorang putra yang sempat menjadi petinggi TNI, dia adalah almarhum Mayjend Ismed Yuzairi. Sebagai anak seorang Amtenar, Kapten Zainuddin bersekolah di HIS. Setelah itu dia melanjutkan ke MULO. Bagaimana aktivitas Zainuddin selanjutnya, tidak banyak referensi maupun sakasi sejarah tentan hal tersebut. Pada tahun 1943 para pemimpin di Sumbar mendirikan Tentara Rakyat yang dinamai Gyu Gun. Tentara Rakyat ini sama dengan Pembela Tanah Air (PETA) di Pulau Jawa. Pemuda Zainuddin dengan penuh semangat masuk Gyu Gun. Di sana dia menyelesaikan pendidikan dengan memperoleh gelar ”Minerai Sikang” alias Calon Perwira.

Waktu Kemerdekaan

Ketika Republik Indonesia sudah merdeka, Zainuddin bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dia memperoleh tugas sebagai Wakil Komandan Perlengkapan dan Pengangkutan dengan Pangkat Kapten. Komandannya ketika itu adalah Mayor Sofyan Ibrahim. Kemudian, pada bulan Januari 1946, menurut HC Israr, Divisi III TKR di bawah komando Kolonel Dahlan Jambek, untuk pertama kalinya memanggil dan memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk dididik menjadi Calon Opsir. Sekolah Pendidikan Opsir angkatan pertama ini dipimpin oleh Letkol Ismail Lengah. Pendidikannya berlangsung selama sembilan bulan dan sangat keras. Selesai pendidikan, hanya 84 orang yang dinyatakan lulus sampai selesai. Kemudian, pada bulan Juli 1946 Letkol Ismail Lengah diangkat menjadi Kepala Seksi Persenjataan Markas Umum Komandemen Sumatera. Sebagai pengganti Pimpinan Sekolah Pendidikan Opsir, diangkatlah Mayor Munir Latif. Kemudian untuk wakilnya sekaligus merangkap Kepala Pelatih, ditunjuk Kapten Zainuddin Tembak.

Saat Agresi II Belanda

Ketika Agresi II Belanda ”meledak” di Indonesia, Markas Batalyon III/Singa Harau terpaksa dipindahkan dari Talawi. Kapten Zainuddin yang tergabung dalam Batalyon tersebut, langsung melakukan konsolidasi dengan pasukan, tentu saja bersama Letnan Kolonen Ahmad Husein. Ketika konsolidasi dilangsungkan, Nagari Talawi sudah dipenuhi pula oleh keluarga tentara dan para pengungsi. Sehingga berbagai kesulitan logistik dan kebutuhan pokok sehari-hari mulai terasa. Akibat sulitnya mendapat perbekalan, banyak anggota pasukan yang tidak memegang senjata, disuruh untuk pulang ke kampung masing-masing beserta keluarga mereka. Kebetulan, kebanyakan anggota Bataliyon Singa Harau berasal dari Kabupaten 50 Kota.

Saat disuruh pulang tersebut, beredar pula isu bahwa mereka harus meninggalkan senjata, lalu siap-siap untuk cuti. Mungkin karena merebaknya isu tersebut, Letnan Satu Bainal Datuk Paduko Malano, mengajak kawan-kawannya untuk segera berangkat ke Payakumbuh awal Januari 1949. Dengan keyakinan, mereka tidak akan susah dalam mendapatkan perbekalan di daerah tersebut ataupun di Kabupaten Limapuluh Kota . Kedatangan pasukan Singa Harau yang terdiri dari Letnan Satu Bainal Datuk Paduko Malano CS, disusul pula oleh Opsir Muda Azwar yang merupakan Komandan Kompi Markas, yang tiba di Pakan Raba’a Gaduik pada tanggal 8 Januari 1949. Lalu besok harinya, tiba pula Komandan Bataliyon singa Harau Kapten Zainuddin Tembak. Mereka bermaksud hendak menjemput kembali pasukan pasukan Singa Harau yang pergi tanpa sepengetahuan komandan/Zainuddin mengecam keras tindakan tersebut dan menganggap sebagai sebuat pelanggaran disiplin militer. Karenanya, Zainuddin melaporkan kepada Komandan Sub Territorial Sumatera yang berkedudukan di Koto Tinggi.

Bertemu Dengan Munir Latief

Tidak lama setelah peristiwa di atas, Kapten Zainuddin Tembak bertemu dengan Mayor Munir Latief di nagari Andaleh (sekarang masuk dalam Kecamatan Luak, dulu tercatat sebagai wilayah Kewedanaan Militer Payakumbuh Selatan). Dalam pertemuan tersebut, kedua perwira ini menerima undangan rapat penting di Lurah Kincia Situjuah Batua, pada tanggal 15 Februari 1949. Karenanya, sehari sebelum rapat, Zainuddin Tembak dan Munir Latief sama-sama berangkat. Namun sebelum sampai di Situjuah Batua, mereka bermaksud akan menemui opsir muda Azwar yang sedang berada di Limbukan. Tapi kebetulan Azwar sedang pergi ke Koto Nan Ampek menemui Kapten Nurmatis, dan baru akan kembali esok harinya. Karena batal menemui Azwar Tontong, Kapten Zainuddin dan Mayor Munir Latif meneruskan perjalanan ke Situjuah Batua. Sore harinya, mereka berdua sampai di lokasi rapat. Malam hari langsung ikut berdiskusi. Tapi belum sampai Matahari esok terbit, penjajah Belanda telah duluan memberondongkan senjata. Apalah daya, Zainuddin tembak ikut menjadi syuhada. (SUMBER)

PRRI: SAMPAI MATI DI CAP SEBAGAI PEMBERONTAK

CAP sebagai pemberontak bagi PRRI oleh Pemerintah Pusat masih terus disematkan hingga kini. Padahal, gerakan PRRI sebagai perjuangan koreksi bagi jalannya pemerintah. Lalu sampai kapan cap pemberontak melekat pagi yang terlibat dalam gerakan PRRI?

The twilight in Jakarta. Suatu senja kala di Jakarta. Hari itu 15 Februari 1958. Lima puluh tiga tahun silam. Sejumlah wartawan asing memasuki halaman rumah kediaman Menteri Luar Negeri RI Dr Subandrio, Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata rumah itu kosong. Dari paviliun kanan muncul seorang diplomat muda, Ganis Harsono, Mantan Atase Pers Kedutaan Besar RI di Washington.

Di depan Ganis, wartawan New York Times, Bernie Kalb berteriak keras. “Apa macam kalian semua ini, hah? Di mana Perdana Menteri Djuanda sekarang? Dimana Menteri Luar Negerimu Subandrio? Semua tak ada di tempat. Tak ada seorang pun yang bisa dimintai keterangan. Apa macam, nih?”

Lalu Ganis Warsono menyuruh para wartawan asing itu pergi ke Menteng, Pusat Perwakilan Negara-Negara Asing. “Di sana beliau-beliau itu akan bertemu. Ada Prime Minister Djuanda dan ada Menlu Subandrio,” kata Ganis.

Tapi Hans Martinot, wartawan ANP (Algeemeen Nederlands Persbureu) dari Belanda berteriak lagi: “Hei, Ganis! Kau jangan berlagak pintar. Kau pasti sudah mendengar satu jam yang lalu RRI Bukittinggi dan Padang telah menyiarkan Proklamasi PRRI (Pemerintah Revolusioner Repunblik Indonesia di Padang).”

Demikian ditulis almarhum Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie, dalam bukunya Mesin Ketik Tua terbitan Pusat Pengkajian Islam Minangkabau (PPIM) tahun 2005.

Saat itu 15 Februari 1958. Genderang perang ditalu. Pemicunya, ketidakpuasan daerah kepada Pemerintah Pusat: banyak senjang, tak sedikit yang timpang dalam roda pemerintahan. Komunis berkembang subur.

RRI Padang, Bukittinggi, Pekanbaru, Tanjung Pinang, dan Jambi pada waktu itu memang menunda siaran yang telah diagendakan lalu digantikan oleh pengumuman penting dari Ketua Dewan Perjuangan Letkol Ahmad Husein tentang terbentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Perdana Menteri Mr Sjafruddin Prawiranegara, yang sebelumnya merupakan pemimpin PDRI—dipilih Perdana Menteri.

Ahmad Husein membacakan tuntutannya untuk Pemerintah Pusat yang dikenal dengan “Piagam Perjuangan”. Isinya tuntutan itu:
1). Bubarkan Kabinet Djuanda dan kembalikan mandatnya ke Presiden,
2). Bentuk zaken kabinet nasional di bawah suatu panitia pimpinan M Hatta dan Hamengkubuwono IX,
3). Beri kabinet baru mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai pemilu mendatang,
4). Presiden Soekarno/Pj. Presiden agar membatasi diri menurut konstitusi.
5). Bila tuntutannya tak dipenuhi dalam tempo 5×24 jam, Dewan Perjuangan akan mengambil kebijaksanaan sendiri.

Setelah membacakan “Piagam Perjuangan” itu, Ahmad Husein pun melantik Kabinet PRRI di Gubernuran Padang.

Pecah di Tubuh Militer

Menurut Rusli Marzuki Saria —akrab dipanggil Papa— salah seorang yang ikut bergabung dengan PRRI, terlepas dari sebutan apakah PRRI sebagai pemberontakan atau tidak, PRRI muncul merupakan akumulasi dari geliat militer yang banyak muncul sebelum kemerdekaan dan sesudahnya.
“Ini dipicu karena faktor kekuasaan, militerisme, dan belum solidnya militer Indonesia,” kata Rusli Marzuki Saria yang bergabung PRRI saat berusia 22 tahun. Ia bergabung dengan Mobbri (kini Brimob) 106 Sumatera Tengah kepada Haluan, Sabtu (12/1).

Dijelaskannya, sekitar tahun 1945-1950, puluhan para para militer yang bergabung di antaranya Masyumi (tentaranya Hizbullah), PKI (tentaranya Tentara Merah Indonesia), Ninik Mamak (tentara adat), Perti (tentara Allah), dan sebagainya. “Sebagian besar tentara itu tak bergaji.”

Pada tahun 50-an pemerintah memberlakukan sistem gaji terhadap tentara dan mengatur secara benar organisasi militer ini, sehingga banyak tentara yang tersingkir. “Tentara-tentara yang sebelumnya ikut berjuang meraih kemerdekaan ini, banyak yang tersingkir karena berbagai persyarakat yang diterapkan pemerintah. Mereka inilah kemudian berkumpul dan melakukan perlawanan dari daerah-daerah,” jelas Papa.

Rusli Marzuki Saria saat itu bergabung dengan Kompi Mawar FK Unand. Di Kompi itu, ada banyak senjata pemberian Dewan Benteng, yaitu 12 buah basoka, 12 LMS, brengan, british LE, dan JS Karaben.

Diserang Kiri-Kanan

Pemerintah Pusat tak senang diultimatum. Lima hari setelah ancaman itu, Pusat kirim tentara ke Padang sebanyak 7.500-10.000 personil terdiri dari Kodam Diponegoro, Siliwangi, Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO khusus Marinir AL ke Sumatra Tengah (Minangkabau). Tidak cukup? Pusat memperkuat lagi dengan mengirim 5-7 kapal perang dan ditambah dengan pesawat tempur.

Kolonel Ahmad Yani memimpin penyerangan. Namanya Sandi Operasi 17 Agustus. Maka, berdarah-darahlah negeri ini. Dentuman dan raungan senjata perang sahut-menyahut. Perang sesama saudara sendiri. Saling mengunus senjata dengan saudara yang pernah sama-sama berjuang memerdekakan negeri yang bernama Indonesia ini.

Bagindo Fachmi, 70 tahun, salah seorang yang terlibat langsung dalam gerakan PRRI mengisahkan, gerakan PRRI sebagai perjuangan koreksi terhadap jalannya pemerintahan.
“Pemerintah pusat saat itu tidak merasa ada yang perlu dikoreksi. Perlawan itu dinilai pusat sebagai pembangkangan terhadap pusat. Senjata adalah jawaban yang tepat pagi pusat. Pembangkangan para militer yang sakit hati. Di dalam teori militer, mereka disebut desersi. Maka, kebijakannya adalah tumpas,” kata Bagindo Fachmi.

Dewan Perjuangan yang diketuai oleh Letkol Ahmad Husein adalah gabungan dari dewan-dewan daerah seperti Dewan Benteng (Sumatera Tengah), Dewan Gajah (Sumatera Utara), Dewan Garuda (Sumatera Selatan), Dewan Lambung Mangkurat (Kalimantan Selatan), dan Permesta (Sulawesi Utara). Sekretaris Jenderal Dewan Perjuangan adalah Kolonel Dahlan Djambek, Deputy III KSAD yang bergabung dengan Dewan Banteng.

Rapat Rahasia

Dalam buku “Mesin Ketik Tua” disebutkan, lebih kurang sebulan sebelumnya yakni pada 8 Januari 1958 telah berlangsung rapat rahasia di Sungai Dareh, Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung. Tempat rapat di sebuah gedung yang amat sederhana di tepi Sungai Batanghari yang dikenal dengan “Pasanggrahan”.

Dari pihak militer yang hadir, Letkol Ahmad Husein (Ketua Dewan Banteng), Kolonel Maludin Simbolon (Ketua Dewan Gajah), Letkol Barlian (Ketua Dewan Garuda), Letkol Venje Sumual (Permesta), Kolonel M. Dahlan Djambek (Deputi II KSAD yang bergabung dengan Dewan Banteng), Kolonel Zulkifli Lubis (Wakil KSAD yang menghilang).

Tokoh dari sipil adalah Moh Natsir, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Syarif Usman, Almez, Taher Samad, Duski Samad, H. Darwis Taram, Moh. Sjafe’i Kayutanam, Sulaiman, dan Sjarif Said. Rapat itu berlangsung dua hari dan berakhir tanggal 9 Januari 1958. Pertemuan hari pertama khusus militer dan hari kedua gabungan militer dengan politisi.

Dalam pertemuan rahasia tersebut disepakati bahwa sebulan setelah rapat Sungai Dareh yakni pada tanggal 10 Februari 1958 disampaikan tuntutan kepada pemerintah pusat melalui ultimatum 5×24 jam. (SUMBER)

e-Paper Harian Haluan, 13 February 2011

DEWAN BANTENG DAN PRRI

Ini merupakan rangkaian tulisan Syafri Segeh di Padang Ekspress, Sangat penting juga bagi generasi muda minangkabau memahami PRRI.

Dewan Banteng dan PRRI (1)
Oleh : Syafri Segeh, Wartawan Senior Sumatera Barat

WALAUPUN antara Dewan Banteng yang dibentuk tanggal 20 Desember 1956, 52 tahun yang lalu, dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamirkan oleh Dewan Perjuangan (bukan oleh Dewan Banteng) tanggal 15 Pebruari 1958, 50 tahun yang lalu, ibarat mata uang logam yang satu sisinya hampir sama dengan sisinya yang lain, namun berbeda tujuan, “seiring batuka jalan”.

Maksudnya walaupun Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Banteng di satu sisi, tetapi di sisi lain Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan yang memproklamasikan PRRI. Dewan Banteng dibentuk bertujuan untuk membangun Daerah sedangkan PRRI membentuk Pemerintahan tandingan melawan Pemerintah Jakarta yang sah waktu itu.

Gagasan membentuk Dewan Banteng timbul di Jakarta pada 21 September 1956 dari sejumlah Perwira Aktif dan Perwira Pensiunan bekas Divisi IX Banteng di Sumatera Tengah dulu setelah mereka melihat nasib dan keadaan tempat tinggal para prajurit yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dalam perang Kemerdekaan melawan Belanda tahun 1945 -1950, keadaan Kesehatan amat sederhana, anak-anak mereka banyak yang menderita penyakit dan kematian.

Ada asrama yang ditinggalkan oleh KNIL (tentera Belanda), akan tetapi tidak mencukupi, karena jumlah mereka yang banyak. Para perwira aktif dan perwira pensiunan dari eks. Divisi Banteng juga melihat nasib masyarakat yang semakin jauh dari janji-janji dalam perang Kemerdekaan, hidup mereka semakin susah,tidak bertemu janji keadilan dan kemakmuran bersama itu.Pemerintah Pusat lebih mementingkan Daerah Pulau Jawa ketimbang Daerah diluar pulau Jawa dalam hal pembagian “kue” pembangunan, sedang daerah di luar pulau Jawa adalah penghasil devisa yang terbanyak.

Pertemuan sejumlah perwira aktif dan perwira pensiunan eks. Divisi Banteng di Jakarta itu kemudian dilanjutkan dengan mengadakan Reuni di Padang dari perwira-perwira aktif dan pensiunan eks. Divisi Banteng pada tanggal 20 –24 Nopember 1956 yang pada pokoknya membahas masaalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah. Reuni yang dihadiri oleh sekitar 612 orang perwira aktif dan pensiunan dari eks. Divisi Banteng itu akhirnya membuat sejumlah keputusan yang kemudian dirumuskan di dalam tuntutan Dewan Banteng.

Untuk melaksanakan keputusan-keputusan Reuni itu,maka dibentuklah suatu Dewan pada tanggal 20 Desember 1956 yang dinamakan “ Dewan Banteng”mengambil nama Banteng dari Divisi Banteng yang sudah dibubarkan. Di dalam perang Kemerdekaan tahun 1945 -1950 melawan Belanda dulu di Sumatera Tengah dibentuk sebuah Komando militer yang dinamakan dengan Komando Divisi IX Banteng.

Sesudah selesai perang Kemerdekaan dan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1950, maka Komando Divisi Banteng ini diciutkan dengan mengirim pasukan-pasukannya ke luar Sumatera Tengah seperti ke Pontianak, Ambon, Aceh dan Jawa Barat. Pengalaman yang sangat menyedihkan dialami oleh Batalyon “Pagar Ruyung” yang sesudah bertugas di Ambon, lima dari delapan kompinya dipindahkan ke Jawa Barat. Pasukannya dilebur ke dalam Divisi Siliwangi dan hubungan dengan induk pasukannya Divisi Banteng diputus.

Terjadi berbagai hal sehingga ada yang meninggal dunia dan ditahan. Komando Divisi Banteng makin lama makin diciutkan, sehingga akhirnya tinggal satu Brigade yang masih memakai nama Brigade Banteng, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein. Kemudian pada bulan April 1952 Brigade Banteng diciutkan menjadi satu Resimen yang menjadi Resimen Infanteri 4 di dalam Komando Tentera Teritorium (TT) I Bukit Barisan (BB) di bawah Komando Panglimanya Kolonel Simbolon.Letkol. Ahmad Husein diangkat kembali menjadi Komandan Resimen Infanteri 4 TT I BB itu.

Pemecahan Batalion-batalion dan pembubaran Komando Divisi Banteng itu menimbulkan bibit-bibit dendam dari para pejuang perang Kemerdekaan melawan Belanda yang bernaung di bawah panji-panji Divisi Banteng itu. Pengurus Dewan Banteng terdiri dari 17 orang, yang terdiri dari 8 orang perwira aktif dan pensiunan, 2 orang dari Kepolisian dan 7 orang lainnya dari golongan sipil, ulama, pimpinan politik, dan pejabat.

Lengkapnya susunan Pengurus Dewan Banteng itu adalah :Ketua,Letkol, Ahmad Husein,Komandan Resimen Infanteri 4, Sekretaris Jenderal Mayor (Purn) Suleman, Kepala Biro Rekonstruksi Nasional Sumatera Tengah, sedangkan anggota-anggotanya adalah Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa, Kepala Polisi Sumatera Tengah, Sutan Suis, Kepala Polisi Kota Padang, Mayor Anwar Umar, komandan Batalion 142 Resimen 4. Kapten Nurmatias Komandan Batalyon 140, Resimen Infanteri 4. H. Darwis Taram Dt. Tumanggung, Bupati 50 Kota, Ali Luis Bupati d/p di Kantor Gubernur Sumatera Tengah, Syekh Ibrahim Musa Parabek Ulama, Datuk Simarajo, Ketua Adat (MTKAAM).

Kolonel (Purn) Ismael Lengah, Letkol (Purn) Hasan Basri (Riau), Saidina Ali Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Kampar, Riau, Letnan Sebastian Perwira Distrik Militer 20 Indragiri, Riau, a. Abdulmanaf, Bupati Kabupaten Merangin, Jambi, Kapten Yusuf Nur, Akademi Militer, Jakarta dan Mayor Syuib, Wakil Asisten II Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta.

Selain itu Dewan Banteng didukung oleh segenap Partai Politik, kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI), juga didukung oleh segenap lapisan masyarakat seperti para pemuda, alim ulama, cadiak pandai, kaum adat sehingga waktu itu lahirlah semboyan,” timbul tenggelam bersama Dewan Banteng”. (Sumber)

REKAM JEJAK CIA DI INDONESIA [4]

Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washingon. Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”.

Untuk membangun satu kelompok militer—terutama Angkatan Darat—di Indonesia yang ‘baru’ (baca: pro Amerika), AS menyelenggarakan pendidikan militer untuk para perwira Indonesia ini di Fort Leavenworth, Fort Bragg, dan sebagainya. Pada masa antara 1958-1965 jumlah perwira Indonesia yang mendapat pendidikan ini meningkat menjadi 4.000 orang. (Suroso; 2008; h. 373)

Selain militer, AS juga membangun satu kelompok elit birokrat di Universitas-Universitas AS seperti di Berkeley, MIT, Harvard, dan sebagainya, yang dikenal sebagai Mafia Berkeley. Kedua elemen ini binaan AS ini (kelompok perwira AD yang dipimpin Suharto dan kelompok birokrat yang tergabung dalam ‘Mafia Berkeley’ pimpinan Sumitro) kelak berkuasa di Indonesia setelah Soekarno ditumbangkan. Inilah cikal bakal Orde Baru (The New Order). Amerika Serikat sendiri juga dikenal sebagai pemimpin Orde Dunia Baru (The New World Order).

Sejak kegagalan mendukung PRRI/PERMESTA, National Security Council (NSC) lewat CIA terus memantau perkembangan situasi Indonesia secara intens. Sejumlah lembaga-lembaga sipil dan militer AS juga sangat aktif menggodok orang-orang Indonesia yang dipersiapkan duduk di kursi kekuasaan paska Soekarno.

Sebuah memorandum CIA yang dipersiapkan untuk State Department yang dikeluarkan di Washington, 18 September 1964 berjudul Prospek Untuk Aksi Rahasia berisi 18 point, dalam point ke-16 antara lain berbunyi:

…Seberapa jauh kita dapat melakukan usaha memecah PKI dan lebih penting lagi, untuk mengadu PKI melawan elemen non-komunis, khususnya dengan Angkatan Darat? Sampai sejauh mana, bila dimungkinkan, kita harus menyerang Soekarno? Apakah tidak dapat terpikirkan untuk menggerakkan tekanan internal seperti membangkitkan kerusuhan Cina tahun lalu, dan di bawah syarat-syarat tertentu mungkin akan memaksa Angkatan Darat untuk meraih kekuasaan besar guna memulihkan keamanan dan ketertiban? Kita tidak ingin nampak terlalu ambisius dalam hal ini. Tapi jika kita membangun program yang didalamnya terdapat bentuk [kurang dari 1 baris teks sumber tidak dideklasifikasikan] sebagai supplement di dalam perkembangan politik jangka panjang. Penting sekali mengetahui kemana kita akan berjalan dan mampu menuntut kemungkinan segala konsekuensinya dari segala usaha kita. Saat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini adalah sekarang, tidak ada nanti…” (Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965; 2007).

Demikianlah. Sudah banyak literatur dan dokumen yang membongkar keterlibatan CIA di dalam peristiwa Oktober 1965, yang pada akhirnya menjatuhkan Soekarno dan menaikkan Jenderal Suharto. Atas nama pembersihan kaum komunis di negeri ini, CIA turut menyumbang daftar nama kematian (The Dead List) yang berisi 5.000 nama tokoh dan kader PKI di Indonesia kepada Jenderal Suharto. Orang yang dijadikan penghubung antara CIA dan Suharto dalam hal ini adalah Adam Malik (lihat tulisan Kathy Kadane, seorang lawyer dan jurnalis State News Service, berjudul “Para Mantan Agen Berkata: CIA Menyusun Daftar Kematian di Indonesia”; Herald Journal, 19 Mei 1990. Artikel yang sama dimuat di San Fransisco Examiner, 20 Mei 1990; di Washington Post, 21 Mei 1990; dan di Boston Globe, 23 Mei 1990). CIA memang memberi daftar kematian sejumlah 5.000 orang, namun fakta di lapangan jauh di atas angka itu. Kol. Sarwo Edhie, Komandan RPKAD saat itu yang memimpin operasi pembersihan ini, terutama di Jawa Tengah dan Timur, menyebut angka tiga juta orang yang berhasil dihabisi. Bukan tokoh PKI saja yang dibunuh, namun juga orang-orang kecil yang tidak tahu apa-apa yang menjadi korban politik kotor konspiratif antara CIA dengan para ‘local army friend’.

Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washingon. Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”. Indonesia memang laksana peti harta karun yang berisi segala kekayaan alam yang luar biasa. Jika oleh Soekarno kunci peti harta karun ini dijaga baik-baik bahkan dilindungi dengan segenap kekuatan yang ada, maka oleh Jenderal Suharto, kunci peti harta karun ini malah digadaikan dengan harga murah kepada Amerika Serikat.

“Salah satu hal yang paling prinsipil dari pergantian kepemimpinan di Indonesia, dari Soekarno ke Suharto adalah bergantinya karakter Indonesia dari sebuah bangsa yang berusaha menerapkan kemandirian berdasarkan kedaulatan dan kemerdekaan, menjadi sebuah bangsa yang bergantung pada kekuatan imperialisme dan kolonialisme Barat,” demikian Suar Suroso (Bung Karno, Korban Perang Dingin; 2008).

Prosesi digadaikannya seluruh kekayaan alam negeri ini kepada jaringan imperialisme dan kolonialisme Barat terjadi di Swiss, November 1967. Jenderal Suharto mengirim sat tim ekonomi dipimpin Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Tim ini kelak disebut sebagai Mafia Berkeley, menemui para CEO korporasi multinasional yang dipimpin Rockefeller. Dalam pertemuan inilah tanah Indonesia yang kaya raya dengan bahan tambang dikapling-kapling seenaknya oleh mereka dan dibagikan kepada korporasi-korporasi asing, Freeport antara lain mendapat gunung emas di Irian Barat, demikian pula yang lainnya. Bahkan landasan legal formal untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia pun dirancang di Swiss ini yang kemudian dikenal sebagai UU Penanaman Modal Asing tahun 1967 (John Pilger; The NewRulers of the World). Dan jangan lupa, semua COE korporasi asing tersebut dikuasai oleh jaringan Yahudi Internasional.

Dalam fase awal kekuasaannya, Jenderal Suharto didampingi oleh dua tokoh Orde Baru, sama-sama Amerikanis, yakni Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Mereka ini dikenal sebagai Triumvirat Orde Baru.

Dalam tulisan berikutnya akan disorot jejak CIA di dalam masa kekuasaan Jenderal Suharto, di mana bukan hanya CIA yang diajak masuk ke Indonesia namun juga nantinya MOSSAD, sebagaimana telah ditulis dengan jelas di dalam Memoirnya Jenderal Soemitro, mantan Pangkopkamtib. (Sumber)

REKAM JEJAK CIA DI INDONESIA [3]

Pesan rahasia CIA kepada para pimpinan PPRI agar sebelum mundur dari Riau mereka meledakkan instalasi kilang minyak Caltex dulu, agar dua batalyon US Marine yang sudah menunggu di perairan Dumai bisa mendarat dan menghantam pasukan Yani, dan setelah itu berencana merangsek ke Jakarta guna menumbangkan Soekarno, sama sekali tidak sempat dilakukan para pemberontak.

Awalnya pemerintah AS membantah keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI/PERMESTA. Namun sungguh ironis, tidak sampai tiga pekan setelah Presiden Eisenhower menyatakan hal itu, pada 18 Mei 1958, sebuah pesawat pengebom B-29 milik AS ditembak jatuh oleh sistem penangkis serangan udara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), setelah pesawat itu membombardir sebuah pasar dan landasan udara Ambon. Sebuah kapal laut milik ALRI juga menjadi korban (Soebadio: Hubungan Indonesia Amerika Dasawarsa ke II Tahun 1955-1965; 2005; h. 73).

“Sejumlah rakyat sipil, yang sedang berada di gereja pada acara Kamis Putih, terbunuh dalam serangan di komunitas Kristen tersebut,” tulis David Wise & Thomas B. Ross dalam “The Invisible Government: Pemerintah Bayangan Amerika Serikat” (2007; h. 180). Pilot tempur pesawat tersebut, Allan Lawrence Pope berhasil ditangkap hidup-hidup.

Awalnya, AS lewat Dubes Howard P. Jones berkilah jika Pope merupakan warganegara AS yang terlibat sebagai tentara bayaran, namun pemerintah RI mendapatkan banyak bukti jika Pope merupakan agen CIA yang sengaja ditugaskan membantu pemberontakan guna menggulingkan Bung Karno.

“Pope bukanlah seorang tentara bayaran. Dia terbang atas perintah CIA, yang secara diam-diam mendukung para pemberontak yang mencoba menggulingkan Soekarno… Dalam konferensi pers di Jakarta, 27 Mei, yang digelar oleh Letkol Herman Pieters, Pemimpin Komando Militer Maluku dan Irian Barat di Ambon, menyatakan… 300 sampai 400 tentara AS, Filipin a, dan nasionalis Cina membantu pemberontakan itu.” (Wise & Rose; h.180)

Atas gertakan AS yang sampai mengerahkan kekuatan dua batayon US Marine dengan Armada ke-7nya ke perairan Riau, Bung Karno sama sekali tidak gentar dan balik mengancam AS agar jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam masalah internal NKRI. “AS jangan sampai bermain api dengan Indonesia. Jangan biarkan kekurangpahaman Amerika menyebabkan meletusnya Perang Dunia Ketiga!”

Bung Karno segera mengirim satu pasukan besar di bawah pimpinan Ahmad Yani untuk melibas para pemberontak di Sumatera. Saat itu RRC telah menyiapkan skuadron udaranya serta ribuan tentara regulernya untuk bergerak ke Indonesia guna membantu Soekarno memadamkan pemberontakan yang didukung CIA tersebut, namun Bung Karno menolaknya. “Kekuatan angkatan perang kami masih mampu menghadapi para pemberontak itu,” ujarnya. Dan hal itu terbukti, hanya dalam hitungan jam setelah pasukan Ahmad Yani mendarat di Pekanbaru, Padang, serta Bukit Tinggi—pusat konsentrasi para pemberontak—maka kota-kota penting itu pun direbut tanpa perlawanan yang berarti.

Bahkan pesan rahasia CIA kepada para pimpinan pemberontak agar sebelum mundur dari Riau mereka meledakkan instalasi kilang minyak Caltex dulu, agar dua batalyon US Marine yang sudah menunggu di perairan Dumai bisa mendarat dan menghantam pasukan Yani, dan setelah itu berencana merangsek ke Jakarta guna menumbangkan Soekarno, sama sekali tidak sempat dilakukan para pemberontak. (Edisi Koleksi Angkasa: Dirty War; h.48). Juni 1958, pemberontakan ini berhasil ditumpas.

Sumitro Djojohadikusumo dan sejumlah tokoh yang terlibat pemberontakan melarikan diri ke Singapura dan dari ‘Basis Israel di Asia Tenggara’ itulah, kelompok ini terus menggerogoti kekuasaan Bung Karno dan berusaha agar Indonesia bisa tunduk pada kepentingan kolonialisme dan imperialisme baru (Nekolim) AS.

Walau awalnya AS membantah keterlibatannya, namun setelah tidak akif lagi di Indonesia, mantan Dubes AS Howard P. Jones mengakui jika dirinya tahu jika CIA ada di belakang pemberontakan itu. Hal ini ditegaskan Jones dalam memoarnya “Indonesia: The Possible Dream” (1990; h.145). Upaya CIA menumbangkan Bung Karno selalu menemui kegagalan. Dari membuat film porno “Bung Karno”, sampai dengan upaya pembunuhan dengan berbagai cara. Hal ini menjadikan CIA harus bekerja ekstra keras. Apalagi Bung Karno secara cerdik akhirnya membeli senjata dan peralatan militer ke negara-negara Blok Timur dalam jumlah besar, setelah AS menolak memberikan peralatan militernya. AS tentu tidak ingin Indonesia lebih jauh bersahabat dengan Blok Timur. Sebab itu, setelah gagal mendukung PRRI/PERMESTA, sikap AS jadi lebih lunak terhadap Indonesia.

19 Agustus 1958, AS akhirnya mengeluarkan pengumuman resmi jika pihaknya bersedia menjual senjatanya kepada Indonesia. “Dalam waktu enam bulan, kurang lebih 21 batalyon Indonesia telah diperlengkapi dengan senjata-senjata ringan Amerika,” (Jones; h. 154)

Namun walau di permukaan AS tampak kian melunak, sesungguhnya AS tengah melancarkan ‘operasi dua muka’ terhadap Indonesia. Di permukaan AS ingin terlihat memperbaharui hubungannya dengan Bung Karno, namun diam-diam CIA masih bergerak untuk menumbangkan Bung Karno dan menyiapkan satu pemerintah baru untuk Indonesia yang mau tunduk pada kepentingan Amerika. Ini termuat dalam dokumentasi laporan Hugh S. Cumming, Kepala Kementerian Pertahanan dan CIA, kepada National Security Council (NSC) pada 3 September 1958. (Suroso; Bung Karno Korban Perang Dingin; 2008; h. 331).

Senjata-senjata AS banyak yang dikirim kepada Angkatan Darat, dibanding angkatan lainnya dengan pertimbangan dari analisa agen-agen CIA bahwa elemen ini lebih bisa diajak bekerjasama dengan AS ketimbang elemen lainnya. Di sisi lain, CIA juga menggarap satu proyek membangun kelompok elit birokrat baru yang pro-AS yang kini dikenal sebagai ‘Berkeley Mafia’. Sumitro dan Soedjatmoko merupakan tokoh penting dalam kelompok ini. Bahkan di awal tahun 1960-an, tokoh-tokoh Mafia Berkeley ini bisa mengajar di Seskoad dan menjalin komunikasi intens dengan sekelompok perwira Angkatan Darat yang memusuhi Panglima Tertinggi/Presiden Soekarno, yang diantaranya adalah Suharto yang kelak berkuasa setelah Bung Karno ditumbangkan di tahun 1965. (untuk hal ini lebih lanjut silakan baca artikel David Ransom: “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas di Amerika Serikat Masuk ke Indonesia”; Ramparts; 1971). (Sumber)