-->
Tampilkan postingan dengan label TAN MALAKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAN MALAKA. Tampilkan semua postingan

Apa saja Pemberontakan Di Indonesia Setelah Kemerdekaan

Berbicara soal sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin sangatlah panjang ceritanya. bagaimana tidak, Indonesia di jajaha oleh belanda saja kurang lebihnya selama 350 tahun, belum lagi di tambah dengan 3,5 tahun di jajah oleh jepang. Namun setelah Indonesia merdeka Negara kita belumlah terasa aman karena masih banyak pemberontakan yang tersebr di berbagai wilayah di Indonesia. Neriku kami kan memberikan informasi tentang beberapa rangkuman peristiwa pemberontakan di Indonesia setelah merdeka.


Peristiwa Madiun, 18 september 1948

Peristiwa ini di pimpinan oleh Moeso yang baru kembali dari Moskow. Aliran kiri itu merebut Madiun dan memproklamasikan ‘’Sovyet Republik Indonesia’’ namun mereka dapat di tumpas oleh para TNI Indonesia yang berjuang merebut kembali Madiun ketangan Negara Indonesia.

Pemberontakan Kartosuwiryo, 19 desember 1948
Peristiwa ini terjadi di jawa barat, yang di lakukan oleh pasukan darul islam di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Namun mereka dapat dihancurkan oleh pasukan Divisi Siliwangi pada saat itu.

Peristiwa APRA di Bandung, 23 januari 1950
APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di bawah pimpinan Westerling memberontak kepada RIS (Republik Indonesia Serikat). APRA dapat dihancurkan pada tanggal 24 januari 1950.

Peristiwa Andi Aziz Ujungpadang, 5 april 1950
Andi Aziz adalah mantan seorang KNIL yang memberontak kepada RIS pada saat itu. Namun pada tanggal 26 april 1950 Andi Aziz menyerah karna kekalahannya.

Peristiwa RMS di Maluku, 1 november 1950
RMS yang singkatan dari (Republik Maluku Selatan) di bawah pimpinan Soumokil memberontak kepada RIS. Namun pemberontakannya tersebut berakhir setelah dapat di tumpaskan oleh TNI yang di pimpin oleh Slamet Riyadi, namun sayangnya Slamet Riadi gugur dalam peristiwa tersebut.

Pemberontakan Ibnu Hajar di daerah Kalimantan Selatan
Ibnu Hajar yang menjdi sebagai pimpinan pemberontakan di Kalimantan Selatan tersebut akhirnya dapat ditangkap pada bulan desember 1949.

Pemberontakan DI/TII di daerah Jawa Tengah, (1949-1962)
Pemberontakan berisi tentang DI/TII (darul islam) / (tentara islam Indonesia) yang di bawah pimpinan kartosuwiryo akan membentuk Negara islam di Indonesia

Pemberontakan DI/TII di Sulawesi selatan, 1957
DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakar memberontak kepada Republik Indonesia. Namun akahirnya Kahar menyerah pada tanggal 17 agustus 1957

Pemberontakan DI/TII de Brebes, Jawa Tengah
Pemberontakan ini di pimpin oleh Amin Fatah

Pemberontakan DI/TII di Aceh
Pemberontakan ini di pimpin oleh Daud Beureuh

Pemberontakan AMI di Kebumen, Jawa Tengah
AMI (angkatan muda islam) di kebumen Jawa Tengah mengadakan pemberontakan, yang di pimpin oleh Kiai Somalangu.

Pemberontakan Batalyon 264
Peristiwaq itu terjadi di kudus, jawa tengah. Dan pemberontakan itu dapat di gagalkan oleh pasukan TNI Indonesia.

Peristiwa MMC di Jawa Tengah
Di lereng merapi dan merbabu, jawa tengah, gerombolan yang menamakan Merapi Merbabu Complek (MMC) memberontak kepada Republik Indonesia.

Pemberontakan PRRI di Sulawesi,(1958-1961)
PRRI yang berasal dari singkatan (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) melakukan pemberontakan di Sulawesi.

Pemberontakan Permesta di Sulawesi,(1958-1961)
Permesta yang berasal dari singkaran (perjuangan rakyat semesta) melakukan pemberontakan di daerah Sulawesi.

Pemberontakn G30S/PKI, 30 september 1965
Terjadi peristiwa penghianatan G 30S/PKI yang di lakukan oleh kelompok dewan Revolusi Indonesia pimpinan Letkl Untung, komandan Batalyon I kawal kehormatan Resimen Cakrabirawa. PKI dan beserta ormas-ormasnya di bekukkan. Yang di sebut ormas PKI adala pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Garwani), Barisa Tani Indonesia (BTI), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), perhimpunan mahasiswa Indonesia (Perhim), ikatan pemuda pelajar indonesia (IPPI), serta Himpunan Sejarah Indonesia (HIS). [SUMBER]

SANG GERILYAWAN: TAN MALAKA

[TAN MALAKA] Tan Malaka –lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka—menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau. Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandang Gadang –Sumatra Barat—Tan Malaka dilahirkan. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir,Moh.Yamin dan lain-lain.

Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjaungan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris. Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis.Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Syarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus- kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin). Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah, dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada apidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”. Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia.

Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI. Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang saangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannyamemisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu.

Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu,berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah: (1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti, (2) Bersifat Indonesia sentris, (3) Futuristik dan (4) Mandiri, konsekwen serta konsisten. Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya “MADILOG” mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking”, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner. Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat enjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Semua karya Tan Malaka danpermasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya.

Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang “text book thinking” dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat “Naar de Republiek Indonesia”. Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik,ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (“Gerpolek”-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekwen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun.

Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu. Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Syahrir dan Perdana Menteri AmirSyarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta. Dan pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya ditengah-tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional. [SUMBER]
Diketik ulang dari Brainwashed, Jakarta Extreme Fanzine, June’99.